OPINI.
WAY KANAN, Newshanter.com –
Memenangkan saat bermain. catur, gampang – gampang tapi susah, terkadang penonton lebih cendrung memahami serta terkesan meremehkan strategi masing-masing pemain. Hal seperti ini lah dipandang cukup keliru.
Ketika menjadi penonton maka jadilah penonton yang baik, saat permainan catur sedang berlangsung.
Agar tidak gagal dalam menilai, duduklah dengan rapi, lihat setiap langkah, analisa gerakan dan perbuatan pemain, baik telah dilewati hingga yang akan dihadapi.
Lalu bagaimana nasib masing-masing prajurit catur, apakah mampu bergerak sendiri, atau butuh bantuan…???
Prajurit catur yang merasa paling berani adalah Pion. Sebab pada dasarnya Pion hanya bisa maju serta melindungi Raja dan tidak pernah bisa mundur, Pion itu pemberani. Pion itu bukan penakut. Pion itu rela berkorban, tanpa mengerti maksud, arah dan tujuan Raja, nantinya.
Nah, untuk itu Pion biasanya menjadi korban pertama dalam permainan catur. Terkadang kasihan melihat nasib sang Pion.
Sesuai kodratnya prajurit catur, melangkah sesuai arah pemain, sadar atau tanpa disadari prajurit kemenangan yang kelak diraih, terkadang bukanlah untuk kepentingan umum, seperti berjuang demi khalayak miskin, emansipasi perempuan, pemberantasan kebodohan, dan kepentingan lingkungan hidup. Namun justru sebaliknya ‘kepentingan pribadi, atau sebuah golongan’.
Saat meja catur digelar, tertata sudah tempat dan kedudukan masing – masing prajurit, maka berusahalah untuk menjadi Kuda.
Saat posisi terjepit pun, Kuda masih bisa melangkah, walau tetap dalam batas – batasan.
Drama politik dalam catur, sering dikaji, disamakan serta diibaratkan dengan strategi perang dan tarung, dari Sun Tzu sampai Musashi, bahkan juga dengan strategi dan taktik dalam pertandingan sepak bola.
Hanya pemain catur sejati yang dapat memainkan panggung berpolitik.
Karena pecatur handal, tidak mungkin bisa mengucapkan kata ‘mudah – mudahan saja’.
Hal itu sangat keliru. Seharusnya pecatur berpikir ‘harus bisa memenangkan,’ dengan kata lain, tidak berpasrah pada nasib semata.
Berpikir keras untuk menggapai kemenangan dengan strategi politik dan taktik, karena permainan catur yang dimainkan tidak menutup kemungkinan akan mengorbankan banyak prajurit.
Rela tidak relanya prajurit harus mampu menjadi garda terdepan, terutama Pion karena setiap pengorbanan itu punya alasan sendiri, untuk sebuah kepentingan atau karena harapan ingin merubah keadaan.
Memang sulit untuk tidak mempercayai janji yang gampang terucap dari bibir melalui lidah yang tidak bertulang.
Perjuangan politik demi posisi dalam struktur kekuasaan, wajib menyebut-nyebut “maksud dan tujuan” serta “visi dan misi” yang mulia, tapi juga klise, itu sebagai “asas kepatutan” dalam kampanye.
Lalu, apa arti sebuah kemenangan nantinya dihadapan penonton, setelah pengorbanan banyak prajurit, jika saja ‘Aku, Kamu dan Dia’ tidak ada artinya ketika perlombaan usai.
Terlebih lagi jika kemenangan atas kerja keras mu itu, sebagai prajurit, tidak dihargai apa lagi nantinya tidak bermanfaat bagi semua, Mari sama – sama berpikir, sebelum permainan catur usai.
PENULIS : A.Damiri
