Diduga Panik Tidak Punya Uang Calon Istri Dihabisi di Didalam Mobil

Foto Sripoku

PALEMBANG -Newshanter,com, Raut wajah Asmoro Martinus (32) tampak dingin dan tanpa ekspresi saat menjalani rekonstruksi pembunuhan calon istrinya sendiri Chatarina Wiedyawati alias Wiwit (30), Rabu (12/7/2017). Adegan demi adegan ia peragakan dengan raut muka tanpa bersalah dan tanpa penyesalan.

Total 20 adegan diperankannya, dibawa arahan pihak Kepolisian Subdit III Jatanras Ditrektorat Res Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel.

Dimulai dari penjemputan korban di salah satu hotel di jalan Angkatan 45, hingga mengeksekusi Wiwit di dalam mobil dan diakhiri dengan membuang barang bukti berupa pakaian korban di daerah Kenten Laut.

Kemudian tersangka pulang ke kosannya untuk selanjutnya melarikan diri ke Lampung.
“Jadi rekonstruksi ini untuk menyempurnakan berkas. Ada 20 adegan,” kata Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel, AKBP Erlintang Jaya di sela-sela proses rekonstruksi.

Pantauan Sripoku com, rekonstruksi pembunuhan Wiwit ini mampu menyedot perhatian warga sekitar yang ingin ikut menyaksikan dan ada pula ikut memfoto dan merekam.

Terlihat pula kedua orangtua Wiwit, Paulus Slamet (59) dan Warni (50) serta keluarga besarnya, datang langsung dari kediamannya di Tanjungenim, Muaraenim dan Yogyakarta.

Mereka tampak geram saat melihat Asworo memperagakan cara membunuh Wiwit dengan kunci stir mobil.

“Oiy…Asworo tidak ada penyesalan dari wajah mu,” teriak salah satu kerabat korban.

Sebelumnya, adegan pertama dimulai saat Asworo dari kontrakannya hendak menjemput Wiwit di hotel, dengan alibi hendak meneruskan rencana mereka berdua untuk pergi ke Yogyakarta, 7 Mei lalu.

Namun bukannya lewat jalan protokol, Asworo malah lewat jalan pintas dari Sekip menuju ke Kenten dan tembus ke jalan Nurdin Panji menuju Bandara SMB II.

Saat di Jalan Nurdin Panji itu, mobil sewaan yang dikemudikan Asworo dibelokan ke Jalan Sungai Sedapat dan berhenti di pinggir jalan.

Di lokasi sepi dan masih rimbun ditumbuhi pohon-pohon besar inilah Wiwit tiba-tiba dipukul berkali-kali di bagian wajahnya.

Saat korban lemas, Asworo kemudian menarik ke kursi belakang sebelah kiri, lalu dipukul lagi hingga tidak sadarkan diri.

Di adegan 15 ini, Asworo yang memang niat awal ingin menghabisi nyawa Wiwit lantas mengambil kunci setir

“Perkiraan kita korban sudah meninggal di adegan ini, terlihat darah sudah berlumuran di dalam mobil. Kepala korban pecah akibat hantaman benda tumpul,” tambah Erlintang.

Setelah itu, di adegan 16 Asworo kembali melajukan mobilnya dan sekitar 100 meter dari tempat eksekusi ada lorong dan diarahkan ke sana.

Tak jauh, Asworo menghentikan mobilnya dan menurunkan Wiwit dengan cara di gendong dan diletakkan di semak-semak belukar sekitar 4 meter dari lorong tersebut.

Adegan berakhir saat Asworo membuang barang bukti pakaian korban di daerah Kenten Laut, kemudian tersangka pulang ke kosannya untuk selanjutnya melarikan diri ke Lampung.

Dikatakan Erlintang, dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan mendalam terhadap tersangka, diketahui kalau motif Asworo menghabisi nyawa Wiwit karena sakit hati ternyata korban yang disangka akan menanggung biaya pernikahan keduanya, ternyata juga tidak punya uang.

Sementara korban juga terus mendesak dirinya untuk mencari uang untuk melunasi sejumlah biaya persiapan pernikahan yang telah di Down Payment (DP).

“Asworo berharap korban memiliki uang, untuk pernikahan di Jogya. Tapi nyatanya korban juga meminta Asworo dan terus mendesak hingga tersangka sakit hati dan melakukan tindak pembunuhan itu,” katanya.

Atas perbuatan tersangka ini, dikatakan Erlintang, pihaknya akan menjerat Asworo dengan tiga pasal sekaligus, Pasal 338, 340, 365, tentang pembunuhan berencana.

“Ancamannya 20 tahun atau seumur hidup,” ujar Erlintang.

Sementara Ayah Wiwit, Paulus Slamet pun berharap agar Asworo dihukum seberat-beratnya atas perbuatan kejamnya itu. Pihak keluarga masih tidak percaya jika tersangka tega menghabisi nyawa anaknya.

Padahal, persiapan pernikahan sudah dilakukan semua dan Asworo pun sudah dianggap sebagai anak sendiri.

“Kita sudah tahu dengan kondisi ekonomi Asworo (yang kurang mampu). Saya tahu dia kerja di koperasi. Jadi tidak benar kalau motifnya membunuh Wiwit, karena ketahuan ia tidak punya uang untuk biaya pernikahan,” ucapnya.

Kejam! Ternyata Sebelum Dibuang Wiwit Diperlakukan Begini oleh Asworo, ujar Paulus Slamet sambil menyasikan adegan demi adengan rekonstruksi .(sp)

Pos terkait