WASPADA SUMBAR KLB KASUS DIFTERI. 23 orang Dinyatakan Terjangkit, Tanpa pengobatan Bisa Menyebakan Kematian

ILustrasi

PADANG –Newswhanter.com. Sumbar dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus difteri. Untuk itu, kepada orang tua harus memastikan anaknya mendapatkan imunisasi.

“Sesuai Permenkes 1501, setiap satu kasus dianggap kejadian luar biasa (KLB), dengan itu Sumbar sudah KLB. Untuk itu kita imbau orang tua dapat memberikan imunisasi lengkap pada anaknya,”pesa Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday dalam pers rilis tertulis, Senin (11/12/2017).

Disampaikannya, karena dianggap KLB, Pemprovmelalui Dinas Kesehatan Sumbar sudah melakukan pemeriksaan terhadap pada kontak yang dianggap terserang difteri. Semua kontak pada kasus, sudah diberikan obat anti biotik selama 7 hari. Semua kasus difteri sudah ditangani.

Catatan Dinas Kesehatan dari Januari – November 2017, ada 23 orang masyarakat di Sumbar yang terdeteksi terjangkit difteri. Kasus itu tersebar pada, Padang 11 kasus, Solok Selatan 2 kasus, Limapuluh Kota 3 kasus, Pessel 1 kasus, Padang Pariaman 1 kasus, Pasaman Barat 1 kasus, Agam 1 kasus, Tanah Datar 1 kasus, Bukittinggi 1 kasus dan Kota Pariaman 1 kasus.

Di Indonesia sendiri, penyakit ini disebut sudah hilang pada tahun 1990-an.

Nyatanya, difteri muncul lagi dan mewabah. Sejak Januari hingga November 2017 sudah ada 593 kasus laporan difteri dan 32 kematian di 20 provinsi Indonesia.Hal ini meningkat sekitar 42 persen dari tahun 2016 di mana ada 415 kasus dengan 24 kematian.

Dari 23 orang yang terdeteksi difteri itu, 21 orang di antaranya dinyatakan negatif difteri. Sementara sisanya 2 orangnya lagi dinyatakan positif difteri, yang berada di Solok Selatan dan Pasaman Barat. Di Pasaman Barat, korban meninggal dunia (karena korban juga mengalami gangguan tumbuh kembang dan kurang gizi).

Disebutkannya, 21 orang yang dinyatakan negatif difteri itu tetap mendapatkan upaya penanganan seperti imunisasi. Baik itu imunisasi dasar maupun lanjutan melalui drop out follow up (DOFU).

Merry menyampaikan dan menghimbau kepada masyarakat, apabila ditemukan pihak keluarganya ada gejala demam, batuk, pilek, sesak napas disertai ada membran pada mukosa hidung atau tenggorokan (pseudo membran), maka diminta untuk dibawa ke rumah sakit terdekat, seperti spesialis anak.

Kasus wabah difteri yang terjadi di penghujung tahun 2017 disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, menyebut difteri yang terjadi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Salah satunya karena pengidap difteri tidak hanya terjadi pada anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa.Dalam catatan Subuh, korban difteri paling muda berumur 3,5 tahun dan usia paling tua 45 tahun.

Difteri bukanlah penyakit baru. Ia sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah mewabah di banyak negara.Ia juga disebut sebagai penyakit masa lalu sejak difteri diperkenalkan pada tahun 1920-an dan 1930-an.

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.Bakteri ini dapat hidup di beberapa orang tanpa menunjukkan gejala.Oleh karena itu, ia dinamakan tipe Typhoid Mary, yakni kondisi di mana seseorang tidak sadar sudah memiliki bibit bakteri tersebut.

Seperti flu, difteri menyebar lewat udara, terlebih saat ada orang yang sedang batuk atau bersin.
Jika pada anak-anak, mereka dapat terjangkit karena mainannya yang telah terkontaminasi.

Gejalanya meliputi sakit tenggorokan, demam rendah, dan kurang nafsu makan.

Tanda-tanda ini diikuti timbulnya lapisan keabu-abuan pada hidung atau tenggorokan, dan pembengkakan tenggorokan yang disebut bullneck.

Pola penyebaran difteri

Bakteri pertama-tama akan menempel pada lapisan sistem pernafasan dan menghasilkan racun yang akan membunuh jaringan sehat. Hal ini dilakukan dengan cara mencegah sel menciptakan protein.

Setelah beberapa hari, bakteri ini dapat membunuh begitu banyak sel sehingga jaringan yang mati tadi membentuk lapisan keabu-abuan di hidung dan tenggorokan.Akibatnya, seseorang yang terinfeksi difteri akan sulit bernafas dan menelan.

Jika racun masuk ke aliran darah, maka difteri dapat ditransfer menuju organ vital seperti jantung dan ginjal.Pada akhirnya, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saraf, kelumpuhan, dan gagal napas.

Menariknya, ada dua lapisan infeksi yang terjadi di sini.Di balik bakteri yang menginfeksi manusia, ada virus yang menginfeksi bakteri tersebut sehingga menciptakan toksin.

Mengatasi difteri

Vaksin difteri yang sudah dibuat sejak tahun 1920-an membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali toksin.Dewasa ini, orang mendapatkan vaksin difteri dalam vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus).

Di Indonesia sendiri vaksin ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu saat bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4 sampai 6 tahun.

Bila vaksin yang diterima sudah lengkap, seseorang dapat terhindar dari penyakit tersebut.

Selain itu, juga disarankan melakukan vaksinasi untuk orang dewasa setiap 10 tahun sekali, meskipun beberapa penelitian mengatakan bahwa tambahan setiap 30 tahun sekali sudah dirasa cukup.

Nah, bagaimana jika Anda sudah terlanjur difteri?

Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi antitoksin dan antibiotik untuk menyingkirkan infeksi.

Antitoksin akan menjaga tubuh dari bahaya lebih lanjut yang disebarkan racun, sedangkan antibiotik akan membunuh bakteri dalam 14 hari. Tanpa pengobatan, difteri dapat menjadi masalah serius yang menyebabkan kematian.

Baca: Siapkan Bekal untuk Suami Tercinta, Netizen Sebut Sarwendah Istri Idaman

Namun, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS, meski seseorang dengan difteri telah mendapatkan pengobatan, dia masih berpeluang meninggal.

Rasionya yakni satu dari 10 orang untuk dewasa dan satu dari lima untuk anak balita.

Sementara itu, yang tidak mendapat mengobatan, peluang meninggalnya satu dari dua pasien.

Mengapa difteri masih menjadi wabah di beberapa negara?

Salah satu alasan dan faktor utama infeksi dapat muncul kembali adalah karena vaksinasi yang dilakukan saat masih bayi atau balita di bawah 80 persen. Penolakan vaksin masih ada.

Banyaknya orangtua yang tidak mengindahkan vaksin, atau menyepelekan pentingnya vaksin lengkap untuk bayi, dapat meningkatkan penyakit-penyakit menular ini muncul dan menyerang.

Selain vaksin, faktor kekurangan gizi dan buruknya perawatan medis juga dapat memicu munculnya penyakit ini.Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin jika penyakit yang telah hilang ini sewaktu-waktu dapat muncul kembali.(BB/01)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *