Palembang.Newshanter.com – Masagus (Mgs) Zainal Abidin bin Mgs Mahmud Badarudin, asal palembang terpidana mati kasus kepemilikan ganja pernah bersekolah di ponpes di Palembang. Dia dikenal pendiam namun baik dengan warga sekitar.
“Zainal itu pernah bersekolah di pondok pensantren syariad di Palembang ini. Tapi memang dia tidak sampai tamat, saya tidak tahu persis kelas berapa dia berhentinya,” kata M Sukri, Ketua RT 01 RW 01 Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat, Palembang dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (30/4/2015).
Sukri menjelaskan, sejak kecil Zainal memang berada di lingkungan setempat. Dari nenek dan kakeknya hingga orangtua tinggal di lingkungan tersebut.
Namun kini ibu Zainal yang telah renta ikut bersama adiknya di Jawa. Ini setelah rumah Zainal pada Agustus 2014 lalu terbakar.
“Sejak itu ibunya dibawa oleh adik Zainal yang ada di Jawa. Sedangkan dua anak Zainal diasuh oleh saudara dari istrinya. Zainal dan istrinya bercerai setelah setahun tersandung kasus narkoba tahun 2001,” kata Sukri.
Dalam keseharian, lanjut Sukri, masyarakat mengenal Zainal sedikit pendiam. Namun dalam keseharian dia juga bergaul dengan masyarakat sekitarnya.
“Ketika dia ditangkap polisi, saat itu saya belum menjadi ketua RT, saya masih SMA. Tapi warga terkejut jika Zainal sampai terlibat kepemilikan ganja,” kata Sukri
Sementara itu Masyarakat di sekitar rumah Zainal Ki Gede Ing Suro Tangga Buntung Palembang, tambah Syukri tak pernah keberatan jika jasadnya dimakamkan di Palembang, Sumatera Selatan. Warga juga bingung, jika disebutkan ada penolakan yang disampaikan ke Kejaksaan Agung.
warga di lingkungan rumah Zainal, tidak pernah berembuk untuk menolak jasadnya. Warga di sini adem ayem saja, mau dibawa pulang ke Palembang ya silakan, dimakamkan di tempat lain juga tidak masalah. warga sama sekali tidak pernah melakukan aksi protes soal jasad Zainal.
Baik disampaikan secara lisan atau tulisan, semuanya laporan penolakan tidak pernah diterima Ketua RT setempat. “Saya belum pernah menerima keberatan warga kalau jasad Zainal di kembalikan ke tempat kami. Dan warga saya juga tidak terlalu heboh soal itu. Semuanya biasa-biasa saja,” kata Sukri.
Tidak adanya penolakan tersebut, lanjut Sukri, dapat dibuktikan di mana malam ini warga dengan suka rela menggelar tahlilan di musala.”Saya heran juga kalau disebut-sebut ada warga yang menolak jasad Zainal. Apa lagi disebut-sebut ada yang berkirim surat ke Kejagung. Warga yang mana? Di tempat kami tidak ada,” pungkas Sukri.
Sementara itu Sekda Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Mukti kepada detikcom mengatakan, pihaknya tidak pernah menolak kedatangan jasad Zainal.Yang menolak itu, warga sekitar lingkungan rumah Zainal. Penolakan itu disampaikan lewat surat ke Kejagung,” kata Mukti.
Walau demikian, kata Mukti, penolakan sebagian kecil itu bukannya cerminan atas penolkan seluruh warga sekitar. “Perlu kami luruskan, bahwa Gubernur Sumsel tidak pernah menolak soal jasad Zainal. Karena memang kita selaku eksekutif tidak mencampuri urusan hukum,” kata Mukti.
Sebelumnya pihak Kejagung menyebutkan, penolakan jasad Zainal disampaikan Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Namun soal penolakan itu dibantah Sekda Sumsel.
Setelah di eksekusi jenazahnya di makamkan di TPU Karang Suci Cilacap. Pemakan Zainal, hanya dihadiri adiknya Iwan dan petugas kepolisian bernama Hasan, jaksa, warga, dan beberapa awak media yang datang untuk meliput. Sedangkan doa dipimpin Kepala Bagian SDM Polres Cilacap Iptu Chabib.(DTC/NHO)





