Palembang.Newshanter.com,Tujuh Korban Kekerasan Seksual melapor ke Women Crissis Center (WCC) Palembang. Minta untuk menjalani rehabilitasi untuk memulihkan kondisi psikologis. Ketujuh korban yang mengalami perkosaan ini dilakukan keluarga kandung si korban sendiri.Laporan itu diterima dalam kurun waktu satu tahun.Demikian Direktur WCC Palembang Yenni Izi ketika dihubungi wartawan Sriwijaya Post Kamis (12/11/2015).
Menurut Yenny Izi,ketujuh korban kekerasan seksual tersebut didapat korban dari ayah dan saudara kandungnya sendiri.Saat ini, korban melapor ke WCC Palembang sudah diberikan pendampingan untuk memulihkan kondisi psikologis usai menderita kejadian memilukan ini.
“Ada yang kita perhatikan kondisi psikisnya sembari si korban ditempatkan di rumah orangtua atau keluarga. Namun, ada juga yang kita titipkan dalam suatu shelter,” jelas Yenny .
Dititipkan dalam suatu shelter, Yenny mengatakan karena kondisi psikis korban dinilai belum bisa berada dalam suatu keramaian.Setiap kali berada di lingkungan yang ramai akan orang, traumanya kembali kambuh.
Untuk itu, kondisi korban dinilai perlu ditempatkan dalam lingkungan yang sepi untuk memulihkan kondisinya seperti semula.Lokasi shelter yang dimiliki WCC besifat rahasia demi menjaga kenyamanan korban kekerasan seksual yang tengah menjalani perawatan di sana.
Yenni melanjutkan, tidak seluruh korban kekerasan seksual dititipkan dalam shelter yang sudah disediakan oleh WCC Palembang.Jika traumanya tidak kambuh ketika berada di dalam lingkungan yang ramai, dia masih bisa tinggal bersama keluarga atau orangtuanya.
Namun, WCC akan menurunkan tim untuk sesekali memantau perkembangan kondisi psikis yang diderita.
“WCC merupakan bagian dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang dibentuk oleh Pemkot Palembang. Jadi, setiap ada laporan yang berkaitan dengan anak dan perempuan, WCC akan mendampingi,” kata Yenny.
Tujuh korban kekerasan seksual, kata Yenny, didapat dari laporan yang masuk ke WCC Palembang.Dengan kata lain, di luar tujuh kasus ini, ‘”kemungkinan besar masih da kasus serupa. Namun, korban maupun orangtuanya tidak membuat laporan ke WCC Palembang.” pungkas Yenny.(sp/fil)
