PADANG. NEWSHANTER.COM — Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015 dikhawatirkan akan anjlok. Tingginya ancaman Golput (golongan putih) dipicu oleh beberapa factor sehingga pemilih enggan menggunakan haknya menentukan pemimpin di negeri ini. Hal ini juga didukung trend penurunan pada setiap Pilgub, jika dibandingkan dengan Pemilu Legislatif dan Presiden sejak tahun 2004 lalu.
Dikutip dari laman kpu-sumbar prov.go.id saat Pilgub langsung perdana digelar di Sumbar tahun 2005 lalu, partisipasi pemilih mencapai 63,72 persen. Saat itu, Padang menjadi wilayah dengan partisipasi pemilih paling rendah, yakni hanya 52,62 dan Kabupaten Limapuluh Kota dengan tingkat partisipasi pemilih paling tinggi, yakni 74,44 persen. Padahal, pada Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pilpres yang digelar tahun sebelumnya, partisipasi pemilih mencapai 75,56 persen dan 71,23 – 65,54 persen untuk Pilpres putaran I dan II.
Di periode berikutnya, yakni di Pilgub 2010, partisipasi pemilih melorot sedikit dibanding tahun 2005. Saat Pilgub dimana pasangan Irwan Prayitno-Muslim Kasim mengalahkan petahana Marlis Rahman-Aristo Munandar itu, pemilih hanya mencapai 63,62 persen saja. Jumlah ini, juga menurun jika dibandingkan dengan Pileg dan Pilpres 2009. Pada ajang ini, pemilih di Sumbar mencapai 70,46 persen dan 71,10 persen.
Lalu, apakah jumlah pemilih yang menggunakan haknya akan turun juga pada Pilgub kali ini? Kemungkin itu terbuka karena dari dua kali Pilgub dan Pemilu di tingkat nasional, angka partisipasi pemilih untuk Pilgub cendrung lebih kecil jika dibandingkan dengan dua iven nasional itu.
Pada Pileg dan Pilpres 2014 lalu, partisipasi pemilih di Sumbar jauh lebih kecil dibandingkan dua iven serupa sebelumnya. Tahun ini Pileg hanya diikuti 68,43 persen pemilih dan Pilpres turun menjadi 63,7 persen saja. Jika melihat trend tersebut, partisipasi pemilih di Sumbar dikhawatirkan pada Pilgub kali ini kurang dari 60 persen.
Kekhawatiran angka golput yang akan bertambah besar ini juga menjadi milik sejumlah masyarakat, salah satunya dari mantan Ketua HMI Sumbar, Reno Fernandes. Ia melihat ada dua faktor menjadi penyebab turunnya partisipasi pemilih.
Pertama, jumlah calon gubernur yang sedikit. Ia melihat semakin banyak calon, maka partisipasi akan meningkat dan sebaliknya. Faktor kedua adalah calon gubernur saat ini adalah orang rantau atau berasal dari pesisir.
“Masyarakat Sumbar ini menganut azas solidaritas. Mereka akan memilih jika yang maju ada dari daerahnya. Jika tidak ada yang maju untuk apa memilih. Bisa dibayangkan hanya masyarakat pesisir yang akan memilih,” ucap salah satu peneliti Revolt Institute ini.
Lantas apa yang harus dilakukan untuk menekan angka golput ini. Reno menyatakan, ini sangat bergantung kepada upaya dari calon gubernur untuk memilih mereka dan datang ke TPS.
Salahkan Elit
Sedikit berbeda dengan Reno, pengamat politik Universitas Negeri Padang Eka Vidya Putra menilai semestinya dengan dua orang calon gubernur saat ini, partisipasi pemilih meningkat. Masyarakat tidak dibingungkan dengan munculnya banyak calon.
Sayangnya, ulah para elit yang memainkan isu primordial, seperti orang rantau dan darek, membuat masyarakat berpikir demikian. Eka melihat, isu ini disebarluaskan sangat terbuka pada Pilgub ini, dibanding menggembar gemborkan visi misi calon. Belakangan stigma tagak kampuang bapaga kampuang, tagak suku bapaga suku dan seterusnya, cenderung membuat masyarakat di Sumbar terkotak-kotak.
“Ini adalah contoh tidak baik. Dan kejadian ini selalu terulang di setiap pemilu. Ini bisa menimbulkan konflik,” ucap Eka.
Untuk mengatasi ini, kepada peserta pemilu haruslah mengedepankan kampanye visi misi bukan hal yang bisa memecah belah. Lakukanlah pendidikan politik dengan benar. Kemudian kepada penyelenggara haruslah menekankan bahwa pemilu yang dilaksanakan saat ini bukan hanya untuk 9 Desember mendatang, tapi untuk lima tahun ke depan.
“Jangan mudah diasut oleh isu yang memecah belah,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pengamat Politik dari Universitas Andalas Edi Indrizal mengatakan, alasan pilihan golput menjadi semakin besar karena calon yang muncul masih yang lama dan tidak ada perubahan. Jikapun ada perubahan, hanya posisi, bukan hal yang subtansi. Sementara pergerakan daerah Sumbar dilihat dari berbagai sisi, seperti laju perekonomian, kesehatan pendidikan tidak memperlihatkan pergerakan yang siginifikan.
“Masyarakat menginginkan adanya suatu perubahan dan ini butuh orang yang baru. Tapi bukan calon baru yang asal-asalan,” ucap Edi.
Edi melihat di tataran elit politik saat ini, hanya memikirkan nasib masing-masing, bukan aspirasi rakyat. Manuver yang terjadi pun bukan untuk kepentingan publik, hanya pribadi semata. Karena aspirasi rakyat tidak terwakili, maka golput menjadi pilihan.
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Negeri Padang Nora Eka Putri melihat, di pemilihan gubernur Sumbar ini, selain munculnya petahana, angka golput lebih besar juga bisa muncul dari masyarakat yang disebut urang darek. Karena dari dua pasangan yang muncul ini, tidak memperlihatkan keterwakilan urang darek. Irwan Prayitno dan Nasrul Abit yang mewakili Padang-Pessir Selatan dan Muslim Kasim-Fauzi Bahar yang memiliki massa di Pariaman dan Padang, memperlihatkan mereka hanya berasal dari daerah pesisir.
“Ini nanti bisa menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak memilih. Kemudian bagi kalangan rasional, atau yang sudah melek politik, mereka juga cendrung tidak memilih. Karena calon yang ditampilkan masih yang lama, hanya pasangan yang berubah, dan tidak ada perubahan,” jelas Nora.
Optimis
Menanggapi ancaman penurunan partisipasi pemilih ini, Koordinator Divisi Sosialisasi KPU Sumbar Nova Indra tetap optimis partisipasi akan meningkat. Beberapa trik jitu dikeluarkan KPU untuk menggaet pemilih.
Seperti menjalin diskusi dengan organisasi kepemudaan, organisasi penyandang disabilitas, organisasi perempuan. Diharapkan mereka-mereka yang sudah terlibat diskusi ini bisa menjadi perpanjangan tangan dari KPU untuk menyampaikan informasi Pilkada Desember 2015 mendatang.
Selain sosialisasi, seminar, diskusi, KPU juga mematangkan daftar pemilih tetap. Semakin baik pendataan pemilih, akan bisa menekan pemilih ganda, meninggal dunia dan lainnya, sehingga partisipasi pemilih bisa ditingkatkan.
“Saat ini juga sedang dilaksanakan proses pencocokan dan penelitian (coklit) pemilih dengan langsung mendatangi rumah-rumah. Setidaknya hal ini akan menjadi informasi awal bagi pemilih tentang Pilkada yang akan digelar 9 Desember menatang,” ucap Nova Indra. (HALUAN/NHO)





