Suasana lebaran 2017/ 1438H Bukittinggi di kunjungi ribuan perantau masalah pakir masih jadi kendala

foto net

Bukittinggi,newshanter.com: Suasana lebaran adalah momen buat parantau pulang mudik untuk bertemu dengan sanak saudara yan selama ini tidak pernah bertemu dikarena jarak yang nerjauhan dan juga tuntutan dari pekerjaan, dan begitu juga halnya yang dilakukan perantau Minang yang ada di perantauan.

Setelah berada dikampung halaman?, mereka berfikir kalau pulang kampung tidak lengkap rasanya kalaulah tidak singgah di Kota Bukittinggi.

Namun permasalahan yang terjadi di Bukittinggi yang luasnya 5 km bujur sangakar dan memiliki keterbatasan jalan haal ini menjadi problem bagi kota Bukittinggi, karena ramainya pengunjung yang akan menikmati susana kota yang sejuk dan masyarakatnya yang ramah serta makanannya yang enak-enak,sehingga berdampak pada ketidak cukupan lahan parkiran kendaraan baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat sehingga bayak pengunjung yang parkir di daerah-daerah yang seharusnya di larang untuk parkir dan di mamfaatkan buat memarkirkan kendaraaannya, hanya demi menikmati susana kota Bukittinggi.

Sementara Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias dalam jumpa persnya di ruang aula kantor Walikota Bukittinggi, kamis (22/06/2017) mangatakan, melalui dinas perhubungan berupaya mangatasi permasalahan parkir tersebut, namun karena keterbatasan lahan buat lapangan parkir, hal tersebut masih masih menjadi problem bagi pemerintah Kota Bukittinggi.

” kita berupaya mencari jalan keluar untuk mengatasi permasalahan parkir dikota Bukittinggi ini, kedepanya kita akan usahakan memamfaatkan lahan-lahan kosong yang bisa di gunakan untuk area parkir sementara, kalau masalah parkir mobil sudah ada dilapangan wirabraja yang disediakan oleh kodim, terutama selama lebaran dan hari libur lainya, dan kendaraan rida dua ini yang akan kita carikan solusinya, kedepan kita akan tetap berusaha mencarikan jalan keluarnya”ujar walikota Ramlan Nurmatias.

Sementara itu salah seorang pemuda if (temok) yang di hubungi waratawan newshanter dikediamanya, senin (26/6/7) mengatakan, memang permasalahan parkir sudah menjadi momok semenjak beberapa tahun belakangan ini, karena banyaknya pengunjung yang datang ke kota Bukittinggi, dan juga ada beberapa oknum yang sengaja memamfaatkan kindisi tersebut dengan memojok-mojokan kelompok kami, seolah-olah yang selama ini kami lah penyebab dari semuan kekacauan ini.

Padahal di sisi lain kami berusaha memperbaiki kondisi kota semampu kami, contohnya merekrut pemuda-pemuda yang tidak punya pekerjaan akibat dari pemerintah memberlakukan kebijakan perparkiran dikelola oleh pemerintah, yang selama ini mereka-mereka itulah yang bekerja dan sekarang mereka-mereka tersebut tidak bekerja lagi bekerja, karena tidak terdaftar sebagai juru parkir kontrak pemko, dan mereka inilah yang kami bina dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

kami sadar kejahatan datang karena bermula dari ketidak beradaan, seperti tuntutan hidup semakin berat, mementara anak dan istri butuh makan dan mereka-mereka yang tidak punya pekerjaan, itulah yang kami bina, agar mereka tidak terjerat dengan masalah hukum.

” kita berusaha meciptakan lapangan pekerjaan bagi pangangguran yang selama ini bekerja sebagai petugas parkir, tidak hanya petugas parkir saja tapi banyak yang lainnya, contoh nyata saja akibat kebijakan pemerintah merekrut juru parkir dibawah naungan pemda yang memenuhi kreteria seperti ijazah sma dan lain-lainnya, dan mereka ini tidak semuanya yang tamat sekolah, tentu secara otomatis mereka tidak terpakai, mereka-mereka yang kehilangan pekerjaan ini yang kami bina, contoh petugas parkir dulunya berjumlah ratusan orang sementar yang dikaryakan hanya 76 orang saja, jadi yang selebihnya mau di apakan? dan itulah yang saya bina,” ungkap temok

temok juga menambahkan, kami mendukung sepenuhnya program dan kebijakan yang dibuat pamerintah, tapi sangat disayangkan sekali ada beberapa oknum yang sengaja memamfaatkan nama kelompok atau nama pribadi saya sendiri, hanya untuk mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya, dan apabila terjadi keributan jadi seolah-olah kami penyebab pelanggaran selama ini.

” saya memang sudah mendengar isu-isu itu semua dan juga telah membaca semuanya baik dimedia sosial atau informasi dari mulut kemulut, seolah-olah saya lah biang kerok dari semua kekacauan yang terjadi dikota Bukittinggi ini, kadang-kadang orang-orang tersebut saya juga tidak kenal, tapi biarlah, yang pasti kami selalu mendukung program pemerintah, biar waktu yang memperlihatkan semuanya, kalau kami sebenarnya tidak berseberangan dengan pemerintah kota bukittinggi, ” ungkap temok

Temok juga menambahkan, kedepan saya melalui kelompok akan berupaya membantu pemerintah untuk mengatasi pengangguran yang kian hari kian bertambah di kota Bukittinggi, tentu dengan cara membuka lapangan pekarjaan baru dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan serta pendidikan keterampilan, agar nantinya mereka bisa mandiri.(Dani Sri Rahayu)

 

foto net
foto net

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *