PALEMBANG. Newshanter.com – Paham radikalisme saat ini sudah mulai mengancam usia remaja. Berbagai upaya pencegahan dilakukan oleh pemerintah , mulai dari memberikan penyuluhan hingga sanksi berat bagi pelaku terorisme. Demikian antara lain yang menjadi pokok bahasan dalam Forum Group Discussion (FGD) bersama Komunitas Jurnalis Pencegahan Terorisme di Hotel Arista Palembang Rabu (1/8/2018).
Dr Feriansyah Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel yang menjadi narasumber FGD mengatakan bahwa masyarakat selama ini hanya mengenal radikalisme identik dengan terorisme dan kekerasan. Namun sebenarnya selain radikalisme kekerasan ada juga radikalime skeptis. Faham skeptis ini adalah musuh dari Nasional bahkan Internasional sangat sulit diajak dialog, sulit memikirkan orang banyak, fanatik dan merasa paling benar dan intoleran.
“Masyarakat kita selama ini hanya mengenal radikal yang identik dengan kekerasan, dan tanpa disadari bahwa radikal skeptis juga lebih inten mengancam masyarakat saat ini terutama anak-anak usia sekolah,” kata dosen Unsri ini.
Ditambahkan Dr Feriansyah lebih-lebih jelang Asian Games XVIII ini, sebagai tuan rumah kita harus menunjukkan bahwa tempat kita stabilitasnya aman. Jurnalis juga dituntut berhati-hati dalam menulis berita atau di lingkungan tempat tinggal misalnya harus segera melapor ke aparat berwenang bilamana menemukan orang yang mencurigakan.
“Jurnalis harus hati-hati menulis berita jangan sampai menjadi pembenaran pihak terorisme. Jangan sampai seperti video Imam Samudra yang baru – baru ini beredar. Itu kan hoax dan yang men share sama saja membatu faham radikal,” tegas pria berkacamata ini.
Sementara Abdurahman Taib mantan napi terorisme yang menjadi narasumber kedua banyak menceritakan pengalamannya mengapa dirinya sampai terjerumus kedalam faham radikal itu. Menurutnya tidak ada pencucian otak seperti yang tersiar saat ini. Taib mengatakan para teroris sebenarnya sebelumnya adalah orang-orang yang taat beragama,namun salah dalam memahami makna Jihad Fi Sabilillah.
“Saya bisa terjerumus sebagai teroris itu atas kesadaran sendiri karena memang belajar agama dan dalil-dalil, cuma sayangnya saya salah memahami makna fi sabilillah,” jelas pria yang kini mengaku jualan nasi goreng.
Mantan napi terorisme yang divonis 12 tahun penjara dan hanya menjalani masa hukuman 7 tahun karena dianggap berperilaku baik yang sudah kepangkuan NKRI ini juga menyebut bahwa anak-anak remaja lebih rentan dimasuki faham radikalisme. Disinggung mengapa remaja lebih rentan,pria berjenggot yang gemar pakai gamis dan berpeci ini mengungkapkan bahwa saya kira tidak salah jika remaja harus dikenalkan makna jihad fi sabilillah yang benar itu seperti apa. Kalau memahami arti yang sebenarnya yakin tidak aka nada yang mau seperti prilaku teroris saat ini.
“Sebaiknya anak-anak bangsa diajarkan yang benar jihad fi sabilillah itu seperti apa,sehingga jika mereka mengetahui makna yang sebenarnya, siapapun dia tidak akan mau berbuat kekerasan seperti yang dilakukan teroris saat ini,” katanya.(SS)





