Home / Belitung / Pengembangan Ilmu Membatik Akan Mengangkat Potensi Alam Lokal

Pengembangan Ilmu Membatik Akan Mengangkat Potensi Alam Lokal

MANGGAR – Melati Erzaldi senang, pengembangan tehnik membatik melalui ‘Pelatihan Batik Mangrove’. Walau batik kental dengan budaya Jawa tetapi, batik bisa berkembang dari daerah mana saja, termasuk di Belitung Timur.

“Saya pernah berdiskusi dengan Dekranas Pusat, batik memang sudah menjadi satu warisan budaya. Kenapa Babel juga bisa punya batik, karena dengan kita menambah ragam batik dari Babel artinya menambah khazanah budaya di Indonesia yang berbeda dengan negara lain,” ungkapnya di hadapan ibu-ibu anggota ‘Batik Mangrove’, Sabtu (12/06).

Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Perdagangan Kabupaten Belitung Timur
selama 10 hari lalu mengadakan ‘Pelatihan Batik Mangrove’ untuk Kelompok Usaha Bersama (KUD) Sanggar Batik “Mangrove” Desa Mekar Jaya, Manggar, Belitung Timur.

Melati Erzaldi saat penutupan, hadir untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat Desa Mekar Jaya yang diingatnya selalu bersemangat dan menginspirasi.

“Dua atau tiga tahun lalu, saya ingat Kepala Desa bercerita tentang batik asal desa ini, saat saya berkunjung ke Manggar,” kenangnya.

“Bukan hanya pembinaan, harapan saya kehadiran saya dapat memberikan motivasi kepada bapak ibu semuanya terutama pak Kades dan ibu yang selalu bersemangat mendampingi warganya,” ungkapnya lagi.

Bicara tentang Pulau Belitung, bagi Melati Erzaldi yang terbayang adalah pantai Laskar Pelangi walau sebenarnya kisah yang diangkat dalam novel karya Andrea Hirata ini mengangkat budaya masyarakat Belitung Timur meskipun, masyarakat mengenal pantai-pantai ini terletak di Kabupaten Belitung.

Kehadirannya di Manggar beberapa tahun lalu diingatnya bertemu dengan Kepala Desa Mekar Jaya dan dapat melihat langsung potensi yang luar biasa tentang keterampilan membatik oleh warga desa.

“Batik dengan motif khas Belitung Timur, batik dengan motif khas pulau Belitung dan kebanggaan tersendiri bagi saya, produk batik ini menjadi motif batik khas Kepulauan Bangka Belitung,” ujarnya mengapresiasi.

Batik Mangrove beberapa waktu lalu, kenang Melati Erzaldi, masih melulu berwarna cokelat. Setelah mengikuti pelatihan, membatik sudah bisa dilakukan dengan metode lain dan menghasilkan berbagai warna natural dari bahan-bahan yang ada di daerah ini yaitu pohon mangrove dan metode Indigotin tanpa bahan kimia.

“Ketika ditawarkan kepada para wisatawan atau para pecinta batik akan lebih menarik karena selain alami juga bahannya lebih aman,” ungkap Melati Erzaldi.

Kadis Perindag sekaligus Ketua Harian Dekranasda Babel, Tarmin hadir mendampingi Melati Erzaldi yang merupakan Ketua Dekranasda Babel. Selain itu juga hadir Kepala DPMPTSP dan Perdagangan Beltim; Kepala Bappeda Beltim; dan Ketua Dekranasda Beltim, Purwenda Puspitasari.

“Setelah 10 hari melaksanaakan pelatihan, hasilnya diharapkan para peserta bisa mengembangkan keterampilan batik,” ungkap Ketua Dekranasda Beltim yang baru menjabat dua bulan terakhir.

Purwenda Puspitasari mengatakan, setelah pelatihan dirinya berharap anggota ‘Batik Mangrove’ mendapat tambahan usaha di rumah, menjadikan karyanya sebagai batik khas Belitung Timur dan dapat juga melanjutkan ilmu yang didapatkan kepada teman-teman seprofesi lain.

“Semoga kabupaten Belitung Timur semakin Bangkit dan berdaya,” harapnya.

Rencana Pendampingan Oleh OK OCE

Belitong UNESCO Global Geopark yang disandang Belitung dan Belitung Timur menjadi salah satu kesempatan untuk pengembangan Babel dan Indonesia.

“Saya senang kreasi dari Desa Mekar Jaya yang mengembangkan suatu produk dengan memanfaatkan potensi alam sekitar. Seperti penggunaan mangrove sebagai bahan pewarnaan batik dan berkembang menggunakan indigotin,” ungkapnya.

Pewarnaan dari Indigotin bisa dikembangkan dan bisa menjadi bahan utama ragam pewarnaan batik. Setelah mendapat ilmu, harus terus belajar agar lebih sempurna terutama motifnya.

OK OCE Sinergisitas yang juga hadir pada kesempatan ini dijelaskan Melati Erzaldi karena Babel sudah bekerja sama dengan OK OCE yang didirikan oleh Sandiaga Uno, berkaitan dengan bagaimana kewirausahaan di desa terus berkembang.

Modernisasi digitalisasi sudah seperti nafas kehidupan. Potensi yang bisa diangkat sebagai budaya bisa mendapat bimbingan dari OK OCE.

Harus disadari bahwa, yang membedakan antara Babel dengan negara-negara lain atau provinsi-provinsi yang mungkin sudah lebih maju adalah budaya, budaya yang benar-benar harus dipegang dan bisa di angkat menjadi unggulan, menurut Melati Erzaldi.

“Apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Belitung Timur melalui Dekranasdanya sebagai mitra, harapannya adalah bisa menggerakkan ekonomi dan pariwisata karena Mekar Jaya memiliki wilayah mangrove dengan luasan hingga 40 hektar. Harus dikembangkan dan membuat Beltim menjadi tempat wisata yang menjanjikan,” ungkapnya lagi. (doni)

About Donny NHO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Berita Lain

Sambut Idul Adha, Gubernur Babel Serahkan 5 Sapi

SIJUK – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman terus berkontribusi untuk ...