Home / Kesehatan / PENGARUH KARAKTERISTIK ESTETIK DENTAL TERHADAP STATUS PSIKOSOSIAL REMAJA  PADA SISWA SMA DI KOTA PALEMBANG
Mujiyati, SE, M.Si. Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Kesehatan Gigi.

PENGARUH KARAKTERISTIK ESTETIK DENTAL TERHADAP STATUS PSIKOSOSIAL REMAJA  PADA SISWA SMA DI KOTA PALEMBANG

Penulis : Mujiyati, SE, M.Si.

Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Kesehatan Gigi

 

Penampilan fisik seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Keuntungan serta kemudahan di dalam relasi sosial didapat dari penampilan fisik seseorang yang menarik, seperti pada sebuah konsep pemikiran bahwa kecantikan seseorang sering kali disertai dengan berbagai hal yang positif. Bagian tubuh yang memiliki kecenderungan tinggi dalam mempengaruhi penilaian yang diberikan oleh orang lain adalah wajah. Wajah adalah ciri yang paling mudah terlihat dan oleh karena itu dikatakan sebagai karakteristik fisik yang paling penting dalam pengembangan citra diri dan harga diri, karena interaksi sosial yang positif terbukti menghasilkan hubungan interpersonal yang lebih baik dan lebih percaya diri.

Penampilan wajah, terutama pada bagian mata dan mulut, memiliki tingkatan tertinggi dalam mempengaruhi persepsi estetika seseorang. Namun, dibandingkan dengan bagian yang lain, ketidak puasan terhadap penampilan wajah seringkali lebih disebabkan oleh keadaan gigi-geligi. Susunan gigi yang berjejal, tidak teratur, dan protursi telah menjadi masalah untuk beberapa individu sejak zaman dahulu, dan upaya untuk memperbaiki gangguan ini telah ada setidaknya sejak 1000 SM. Tujuan utama sebagian besar pasien untuk melakukan perawatan ortodonti adalah memperbaiki penampilan dentofasialnya. Bagi mereka perawatan ortodonti akan membuat mereka menjadi lebih baik yang mungkin akan meningkatkan kemampuan mereka untuk berinteraksi sosial dengan orang lain karena gigi yang tersusun rapi mampu menunjukkan senyuman menyenangkan yang akan memberikan nilai positif.

Estetik dentofasial berperan dalam hubungan sosial dan kesehatan psikologis. Hal ini mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri dan perlakuan orang lain. Kelainan estetik dentofasial seperti maloklusi akan berdampak negatif terhadap keadaan psikososial sehingga akan mengganggu kesejahteraan psikologis terutama pada masa remaja, dimana beberapa aspek pada penampilan wajah dan estetik gigi geligi menjadi hal yang sangat penting bagi citra tubuh dan harga dirinya.

Masa remaja merupakan masa yang sangat peka untuk perkembangan penyesuaian diri baik secara individu maupun sosial. Keberhasilan remaja mengatasi dan menggunakan kemampuan pengalamannya untuk memecahkan masalah akan membentuk sikap pribadiyang lebih mantap pada masa dewasanya. Menurut Mar’at (2009) istilah remaja (adolescence) menunjukkan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. WHO mendefinisikan remaja sebagai anak telah mencapai umur 10 – 19 tahun. Menurut UU Perburuhan anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu usia 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan usia 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir.

Masa remaja awal ditandai dengan peningkatan yang cepat dan pertumbuhan dan pematangan fisik. Jadi tidaklah mengherankan apabila sebagian besar dan energi intelektual dan emosional pada masa remaja awal ini ditargetkan pada penilaian kembali dan restrukturisasi dan jati dirinya. Pada saat yang sama, penerimaan dan kelompok sebaya sangatlah penting. Perubahan sosial yang penting pada masa remaja meliputi meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, pola perilaku sosial yang lebih matang, pengelompokan sosial baru, dan nilai-nilai baru dalam pemilihan pemimpin, dan dalam dukungan sosial. Masa remaja akhir ditandai dengan persiapan untuk peran sebagai seorang dewasa, termasuk klarifikasi dan tujuan pekerjaan dan internalisasi suatu sistem nilai pribadi.

Oklusi yang ideal pada gigi dapat ditemukan pada keadaan statis dan pada saatoklusi fungsional. Oklusi pada keadaan statis adalah posisi apapun antara gigi rahang atas dan bawah dikontakkan. Sedangkan oklusi fungsional adalah pergerakan mandibula yang mengakibatkan gigi rahang bawah dan rahang atas berkontak. Kunci oklusi yang normal menurut Angle adalah hubungan antero-posterior gigi permanen molar pertama, yang merupakan penentuan hubungan lengkung gigi.

Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi ketidak teraturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya. Perawatan ortodonti dibutuhkan karena adanya gigi yang berjejal, deep overbite, increased overjet, openbite, diastema, crossbite, dan reverseoverjet or lower jawprotrusion.

Gigi berjejal merupakan keadaan dimana susunan gigi yang sangat tidak rapi, ukuran gigi terlalu besar untuk rongga mulut. Hubungan pengunyahan sangat minim dan keadaan seperti ini sangat tidak enak dipandang. Gigi kaninus rahang atas merupakan salah satu gigi yang paling sering menjadi penyebabnya. Deep overbite merupakan keadaan gigi anterior atas dan bawah yang tumpang tindih yang akan menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan. Increased overjet merupakaan keadaan gigi anterior rahang atas yang menonjol dan berada di luar kontak normal dengan gigi rahang bawah sehingga gigitan menjadi tidak seimbang yang akan menyebabkan pertumbuhan rahang yang tidak merata. Open bite merupakan keadaan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah yang tidak menyentuh saat menggigit, hal ini menyebabkan semua tekanan pengunyahan terjadi pada gigi belakang. Diastema merupakan keadaan yang terjadi karena adanya gigi yang telah hilang atau ukuran gigi yang lebih kecil dari ukuran rata-rata sehingga terdapat ruang diantara gigi. Crossbite merupakan keadaan yang terjadi ketika adanya gigitan dalam gigi anterior rahang atas terhadap gigi anterior rahang bawah, karena akan menyebabkan satu atau lebih gigi insisivus rahang bawah menjadi goyang. Reverse overjet or lower jaw protursion merupakaan keadaan dimana rahang bawahlebih panjang daripada rahang atas (Profit, 2013).

Berdasarkan maloklusi yang ada, para ortodontis mengelompokkan maloklusi berdasarkan kebutuhan perawatan dengan lebih tepat. Berdasarkan metode untuk mengukur dan menentukan keparahan maloklusi dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Contoh maloklusi secara kualitatif adalah Angle, Fisk, dan WHO/FDI. Sedangkan maloklusi secara kuantitatif adalah Dental AestheticIndex (DAI), Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), dan Index of ComplexityOutcome and Need (ICON) (Agarwal dan Mathur, 2012).

Index of Orthodontic Treatment Needdisusun oleh Brook dan Shaw dimodifikasi oleh Richmond pada tahun 1989. Indeks ini telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional sebagai metode yang sederhana, reliable, dan valid, secara obyektif menilai kebutuhan perawatan. Indeks ini berlaku bagi pasien yang berumur dibawah 18 tahun (British Orthodontic Society, 2014). Psikososial merupakan keterkaitan antara 2 aspek yaitu aspek psikologis dan sosial. Aspek psikologis berkaitan dengan perkembangan emosi dan kognitif yang berhubungan dengan kemampuan belajar, merasakan, dan mengingat. Sedangkan, aspek sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan dalam mengikuti norma-norma sosial dan budaya.

Remaja merupakan peralihan masa anak-anak ke dewasa, dengan kisaran usia 12-21 tahun. Seiring peran dalam mempersiapkan diri menuju dewasa,remaja mulai berperan sebagai orang dewasa. Karena itu, banyak remaja mencoba melakukan berbagai aktivitas yang dilakukan orang dewasa, seperti bergabung dalam organisasi dan aktif dalam peran di masyarakat. Sebagai salah satu bagian dari tahap perkembangan psikososial menurut Erikson, masa remaja merupakan saat pembentukan identitas diri dan peran dalam hubungan sosial (identity vs role confusion). Pada masa ini, remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan perannya, yang ditunjukkan dengan penampilan, perilaku, cara berbicara, dengan cara berpakaian.

Konsep diri yaitu suatu pandangan individu tentang seluruh keadaan dirinya, yang mencakup dimensi fisik, karakter, motivasi, kelemahan, kegagalan, kepandaian, dan lain sebagainya. Konsep diri terdiri dari berbagai komponen,  subject self (kita melihat diri sendiri seperti apa), body image (kesadaran tentang penampilan diri), ideal self (gambaran diri yang ideal), real self (diri kita yang sebenarnya), dan social self (bagaimana masyarakat luas melihat diri kita).

Menurut Hurlock (2003), berbagai hal dapat mempengaruhi konsep diri remaja, diantaranya yaitu usia kematangan, penampilan, julukan, hubungan keluarga, teman-teman sebaya, kreativitas, dan cita-cita (Susanti,2008). Pada usia remaja juga mulai terjadi proses pembentukan kepercayaan diri. Percaya diri (self-confidence) merupakan usaha untuk membangkitkan dan memelihara sikap hidup positif, serta memiliki keyakinan pada diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Rasa percaya diri yang tinggi ditandai dengan sikap menerima dan menghargai diri sendiri dan orang lain, memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimiliki, berani menerima kegagalan maupun kekurangan, tidak selalu bergantung pada orang lain, dan merasa tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain.

Perkembangan sosial remaja lebih melibatkan teman sebaya dibandingkan orang tua. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan melakukan aktivitas di luar rumah, seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, dan bermain dengan teman. Oleh karena itu, persepsi, sikap, perilaku dan gaya hidup remaja sebagian besar dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya.

Bagi remaja, penampilan wajah dan susunan gigi-geligi merupakan bagian yang penting dari penampilan fisik, terutama karena masa remaja merupakan tahap perkembangan psikososial yang pesat. Penampilan wajah berpengaruh terhadap bagaimana penilaian dan perlakuan yang diberikan oleh orang lain. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan, orang tua dapat memberi perlakuan lebih baik atau lebih buruk terhadap bayi, guru dapat memberikan pandangan negatif atau positif terhadap murid, kesempatan kerja dapat diperoleh atau hilang.

Pengaruh maloklusi terhadap aspek psikososial remaja diantaranya dapat menurunkan harga diri dan mempengaruhi kehidupan sosial. Mac Gregor dan Lansdown, dkk menemukan bahwa individu yang mengalami ejekan (teasing) cenderung kurang percaya diri dalam interaksi sosial dan memiliki harga diri yang rendah (Johal, Cheung, dan Marcenes, 2007). Penyebab dari stress psikososial ini, dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab secara langsung biasanya terjadi pada masa kanak-kanak yang dilakukan oleh teman–teman sekeliling. Hal ini biasanya berbentuk ejekan (teasing), julukan, dan hinaan fisik. Pengalaman buruk seperti ini bukan hanya berdampak pada keadaan psikososial saat ini, tetapi juga di masa mendatang.

Berkaitan dengan persepsi remaja terhadap maloklusi yang dialaminya, remaja memiliki persepsi negatif terhadap maloklusi yang dialami, merasa tidak puas dengan penampilan gigi-geligi, merasa keadaan gigi-geligi lebih buruk dibandingkan teman sebayanya, dan menerima ejekan. Keadaan maloklusi yang menimbulkan rasa tidak puas diantaranya yaitu jarak gigit besar (lebih dari 9 mm), gigi berjejal pada rahang atas, gigitan dalam dan gigitan terbuka. penampilan gigi-geligi lebih berpengaruh signifikan terhadap harga diri wanita dibandingkan laki-laki. Karakteristik maloklusi yang lebih berpengaruh signifikan dalam menurunkan harga diri remaja wanita yaitu gigi berjejal pada rahang atas depan dibandingkan dengan profil yang cembung. Persepsi diri anak terhadap maloklusi juga dipengaruhi faktor etnis. Dalam sebuah penelitian dikatakan etnis kulit putih memiliki penilaian yang negatif mengenai jarak gigit,tumpang gigit dan gigi berjejal dibandingkan anak-anak dari etnis kulit hitam dan Hispanik.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian adalah siswa  Sekolah Menengah Atas (SMA) 12 Kota Palembang yaitu sebanyak 91 orang (28%), siswa dan siswi yang berumur 16 tahun yaitu sebanyak 223 orang (68,6%), siswa yang sedikit membutuhkan perawatan dari aesthetic component yaitu sebanyak 105 orang (32,3%), siswa yang memiliki status ortodonti oklusi normal yaitu sebanyak 120 orang (36,9%), siswa  yang memiliki oral hygiene kalkulus yaitu sebanyak 210 orang (64,6%).

Hasil penelitian ini menggunakan analisis bivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh aesthetic component terhadap dampak psikososial, dampak sosial, dampak psikologis, dan dampak estetika pada siswa dan siswi SMA Negeri Kota Palembang. Hasil analisis bivariat juga menunjukkan bahwa ada pengaruh dental health component terhadap dampak psikososial dan dampak estetika pada siswa dan siswi SMA Negeri Kota Palembang.

Estetika Dental sangat berpengaruh terhadap psikososial, karena siswa merasa tidak percaya diri dengan penampilan gigi nya yang berjejal, berlubang, dan berkarang gigi. Harapan dari penelitian ini, siswa menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan gigi. Menyikat gigi yang baik dan benar agar gigi tidak mudah berlubang, dan timbul karang gigi, mengkonsumsi makanan yang menyehatkan gigi serta  mengurangi makanan yang merusak gigi. Dengan menjaga kesehatan gigi sejak dini, dapat mencegah terjadinya karies sejak dini.

 

Salam Sehat.

 

About Syarif Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Berita Lain

Kembangkan Jiwa Entrepreneur Sembari Kuliah   

Penulis : Mujiyati, SE. M.Si, Dosen Kewirausahaan Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Kesehatan ...