PALEMBANG -Newshanter.com. Pasca aksi sweeping oknum sopir angkot terhadap driver taksi online dan peristiwa pembunuhan terhadap driver taksi online, Edwar Limba, beberapa waktu lalu, sejumlah driver taksi online di Palembang mengaku trauma dan khawatir terhadap keselamatan jiwa mereka.
Mereka kini ekstra hati-hati ketika akan menerima order calon penumpang agar tak menjadi korban tindak kriminalitas berikutnya.
Hal itu diungkapkan Sandy Rusadi (Wakil Ketua Asosiasi Driver Online), Arvin (perwakilan paguyuban driver online), dan Mukhlis Diponegoro (Pembina Asosiasi Driver Online), ketika menjadi nara sumber pada acara talkshow di Radio Sonora bekerja sama dengan Harian Sriwijaya Post, Rabu (30/8/2017) pagi.
Talkshow mengangkat tema keberadaan taksi online di Kota Palembang.
Selain ketiga narasumber tersebut, nara sumber lain yakni pengamat sosial Prof Dr Abdullah Idi Med.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan itu, para driver mengaku punya cara tertentu, meskipun cara itu berdampak terhadap penghasilan.
“Caranya kita tidak mengaktifkan Auto Bid pada aplikasi,” ujar Arvin kepada Sripoku.com, usai talkshow.
Dijelaskan Arvin, jika Auto Bid tidak diaktifkan, driver bisa melihat terlebih dahulu daerah tujuan dari calon penumpang tersebut.
Jika daerah tujuan jauh atau termasuk red zone (zona merah), maka driver tidak akan menerimanya.
Sementara kalau Auto Bid diaktifkan, sistem akan menunjuk langsung ke driver terdekat dari lokasi calon penumpang.
Dialog
Terkait dengan adanya demo sopir angkot, beberapa waktu lalu, baik Arvin, Sandy maupun Mukhlis menginginkan adanya dialog antara pihak perusahaan transportasi online, para perwakilan driver online, pemerintah, aparat keamanan, dan perwakilan sopir angkot konvensial.
“Pihak-pihak terkait, terutama pemerintah dan pihak keamanan, harus segera membuat regulasi. Ini sangat kami harapkan, agar ke depan tidak ada lagi pergesekan antara driver taksi online dan sopir angkot,” ujar Mukhlis.
“Saat ini kami masih trauma. Apalagi beberapa hari terakhir ini, ada rekan kami mengalami hal yang tidak mengenakan ketika menjemput penumpang di bawah Jembatan Ampera,” ujar Sandy.
“Saat itu ada orang yang menyiram air mineral ke penumpang. Kemudian mereka memukul mobil rekan kami tersebut sehingga kempot,” tambah Sandy.
“Kami jadi tidak enak dengan penumpang,” ujar Sandy lagi.
Zona merah Bukan berdasarkan aturan yang ada,”
Sementara itu dengan muculnya zna merah yang dipasang Tukan Ojek, Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono mengungkapkan kawasan zona merah yang dipasang oleh para tukang ojek pangkalan di Palembang sejatinya tidak ada aturan resmi.Red zone alias zona merah merupakan buatan sendiri oleh para tukang ojek di tempat mereka biasa mangkal.
“Zona merah lebih kepada kesepakatan antara tukang ojek pangkalan itu sendiri. Bukan berdasarkan aturan yang ada,” jelas Wahyu, Rabu (30/8/2017).
Menurutnya, zona merah dibuat oleh tukang ojek pangkalan tersebut merupakan rute trayek yang sering mereka lalu saat membawa penumpang sehingga membuat mereka mengklaim sebagai kawasan dilarang ojek online melintas.
“Itu istilah mereka saja, karena zona merah itu biasanya mereka lalui untuk ambil penumpang,” tegas dia.Ia menambahkan, pasca terjadinya sweeping oleh taksi konvensional terhadap taksi online situasi kota Palembang berangsur kondusif.
Pihaknya pun sudah beberapa kali komunikasi bersama pihak terkait mengenai polemik yang terjadi.
“Kita bukan pembuat undang-undang hanya menjaga situasi agar tetap aman terkendali. Untuk aturan masih kembali kepada regulasi yang ada,” katanya.(sp/fil)





