PADANG -Newshanter.Com. Novel Menggapai Bintang karya Yan Channiago yang diterbitkan Pena House, Blora, Jawa Tengah, Minggu (15/05/2016) diluncurkan di Rest and Reading Corner Lantai 2 Toko Buku Sari Anggrek, Jalan Permindo, Padang, Sumatera Barat.
ACara peluncuran selain bedah buku juga dimeriahkan berbakaui acara baca puisi Muhammad Fadhli, penyair nasional, Syarifuddin Arifin.Live acoustic Sahari Ramadhani feat. Silva Petria, dihadiri Puji Atmoko, Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat dan ara undangan dari kalangan sastrawan, seniman, pejabat dan mahasiswa se-Sumatera Barat.
Menurut Muhamad Subhan, dalan novel ini, Kesabaran dilakoni tokoh Aku (Yan) menghadapi beratnya hidup di zaman penjajahan. Pada tahun 1947, ketika Yan masih berusia 4 tahun, ia mengikuti ayah ibunya pindah dari Painan ke Bengkulu. Perjalanan ditempuh dengan pedati, masuk hutan ke luar hutan, naik turun bukit dan lembah. Sebuah perjalanan yang tidak mudah jika dibandingkan dengan masa sekarang,
Menurut Muhammad Subhan, meskipun tokoh Yan diminta berhenti meneruskan sekolah oleh ayahnya, ketika itu Yan menduduki kelas 3 SMA, karena himpitan ekonomi, namun atas dorongan semangat dari kakak tertuanya, Yan tidak menyerah begitu saja dengan keadaan.
“Di novel ini, kita dapat melihat potret penderitaan pribumi di Bengkulu atas kolonialisasi Belanda. Ketika di dalam barak, Belanda makan roti dan minum susu sambil tertawa, di luar barak, pribumi kelaparan,” kata Muhammad Subhan yanng Penulis dan Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia,.
Diktakanya, novel ini juga berisi realitas sosial pada waktu itu. Di Tapan, pengarang mereportase musibah yang terjadi di masa itu, yaitu meluasnya wabah penyakit cacar yang menyebabkan kematian penduduk. Reportase lain, di novel ini banyak sekali catatan peristiwa sejarah yang diungkap pengarangnya.
Sementara itu, Denni Meilizon, editor novel dan resentator buku sastra asal Silaping, Pasaman Barat, juga tampil sebagai narasumber. Menurut Denni Meilizon, novel Menggapai Bintang tak sekadar novel memoar biasa, ini bisa menjadi referensi sejarah, karena belum pernah saya temukan teks sejarah yang menerangkan kondisi Tapan hingga Bengkulu pada masa itu.
“Novel ini sangat bagus dibaca siapa saja, terutama generasi muda agar tidak mudah untuk berputus asa dan sangat menyemangati kita semua untuk gigih memperjuangkan cita-cita,” ujar Denni Meilizon yang juga Koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Wilayah Sumatera Barat.
Yan Channiago, penulis novel Menggapai Bintang, mengungkapkan latarbelakang dirinya menulis novel setebal 224 halaman itu. “Sudah lama saya tulis novel ini, namun tersendat pada bab ke tiga.
Ketika saya bertemu Muhammad Fadhli, anggota FAM Sumbar, saya disemangati untuk menyelesaikan novel Menggapai Bintang ini, dan Alhamdulillah, dalam tiga bulan novel ini pun tuntas saya tulis,” ucap Yan Channiago, di acara yang dimoderatori Yusrina Sri, General Marketing Rumahkayu Publishing.
“Para peserta memadati Rest and Reading Corner Sari Anggrek. Ini di luar prediksi kami, ternyata acara ini mendapat respon luar biasa sekali dari pecinta literasi di Sumatera Barat,” tambah Alizar Tanjung, ketua panitia, yang juga seorang penulis yang baru saja merilis novel terbarunya berjudul ‘Anak-anak Karangsadah’. ((Muhammad Fadhli)





