Palembang, newshanter.com – Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Ummat Dr Ing Ridho Rahmadi, S.Kom.,MSs.c memberikan kuliah umum dengan mengambil tema “wawasan kebangsaan” tokoh muda akademik dan politik nasional yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Satya Negara yang dipusatkan di aula STIA Satuan Negara. Dan untuk STIA Satya Negara ini sendiri berada dijalan Sukatani, Senin (27/2/2023).
Turut hadir didalam acara tersebut Ketum DPP Partai Ummat Dr Ing H Ridho Rahmadi, S.Kom.,Ms.c, Ketua Yayasan Dr Zulkani Effendi, S.Kom.,M.Si, Ketua STIA Satya Negara Dr Supardi S.Sos.,M.Si, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Ummat Provinsi Sumsel Dr H Niko Pransisco, S.H.,M.H, Sekretaris DPW Partai Ummat Provinsi Sumsel M Wiratama Yudha, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Ummat Kota Palembang, DPD Partai Ummat Kabupaten, dan undangan lainnya.
Dikatakan Ketum DPP Partai Ummat Dr Ing H Ridho Rahmadi dalam kuliah umumnya mengatakan, dimana saya merupakan putera asli orang Tanjung Batu kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumsel, dimana orang tua saya disana. Dimana saya berharap design kuliah umum hari ini bentuk dialog. Dimana kita coba dialog kan wawasan kebangsaan, kita hadir pada hari ini, ditempat ini yang alhamdulillah tidak terlalu besar, kalau terlalu besar itu sulit memikirkan bangsa.
“Dari sisi ini sesuatu yang mengecoh, sesuatu yang tampaknya terlihat oke-oke saja, terlihat baik-baik saja, tapi sesungguhnya tidak baik-baik saja, sesungguhnya terjadi justru sebaliknya,” ujarnya.
Kemudian, kita beruntung kita bersyukur ada STIA Satya Negara kampus swasta itu hadir membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Kampus Negeri itu sebenarnya kurang, itu jumlahnya hanya ratusan dahulu, kemudian jumlah yang banyak justru dibantu oleh kampus swasta. Dimana yang saya lihat disana, itu minimal untuk pendidikan itu kalau tidak gratis, yang murah atau yang terjangkau.
“Kita masih bayar kuliah, bukan STIA yang salah, karena pemerintah belum sanggup nyatanya untuk menyediakan kampus-kampus yang banyak, jadi kita ada anggaran pendidikan 20 persen,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, diera informasi ini, diera digitalisasi ini kita setiap hari hidup dengan 2,5 Triliun data, berarti satuannya 1 juta, 1 Triliun dari 1 juta triliunan, banyak sekali data yang kemana-mana diantara kita. Banyak sekali informasi yang kemana-mana diantara kita, diantaranya kita kemudian kesulitan membedakan mana yang hoax atau bukan, dan mana yang asli dan palsu.
“Dimana informasi-informasi yang deras ini membuat kita kemudian gagal fokus, membuat kita kemudian memiliki standar kontingen tadi yakni kenyamanan,” katanya.
Masih dilanjutkannya, tapi poin yang saya sampaikan adalah realitas yang mengecoh, karena yang sesungguhnya kita sebagai bangsa berhak untuk hidup dengan taraf hidup yang lebih baik dari hari ini. Jadi ada level atau taraf hidup yang sesungguhnya, yang namanya makmur itu bukan mimpi disiang bolong, jadi itu ada. Prinsip yang murah itu ada, di Belanda itu walaupun Euro tapi kalau kita standarisasi terhadap gaji bulanan disana.
“Ada indeks yang disebut global competitive minus index, jadi indeks atau alat yang mengukur seberapa kompetitif sebuah negara, dan yang merilis adalah dari luar,” imbuhnya.
Menurut Ketua Yayasan STIA Satya Negara Dr Zulkani Effendi, saya sebagai Ketua Yayasan STIA Satya Negara ini sangat bangga pada hari ini, tidak menyangka tokoh nasional yang muda bisa hadir bersama kami di kampus kita, selamat datang sahabat-sahabat Ummat dari Partai Ummat dari DPP Partai Ummat beserta dengan lainnya.
“Bahwasanya Ketum DPP Partai Ummat Ridho adalah sahabat saya, beliau adalah wong Tanjung Batu kabupaten Ogan Ilir, beliau adalah orang Sumsel tokoh nasional yang masih bangga, dan kita bangga,” bebernya.
Ditambahkannya, dimana beliau karena tokoh nasional yang masih muda, mudah-mudahan beliau bisa menjadi pimpinan di Nasional. Dimana pada kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran dari DPW Partai Ummat dimana kita ingin STIA Negara ini memiliki khayalan untuk lebih maju lagi. Alhamdulillah berkat berjuang secara terus menerus dan bersama STIA Satya Negara bisa seperti ini.
“Dari sebuah mimpi kemudian diwujudkan secara step by step, alhamdulillah sekarang menjadi suatu kampus yang besar, dan mari kita doakan akan semakin besar,” jelasnya.(ton)
