AGAM .Newshanter.com– Jemaah Tarekat Syattariah di Kenagarian KOtotuo IV Koto Malalak Barat, Kecamatan Malalak,dan Jemaah di Kabupaten Agam, akan melaksanakan puasa Ramadhan 1439 Hijriah Jumat (19/05/2018).
“Alhamdulillah Jumat (17/05/2018) kami akan puasa,karena dari hasil melihat bulan (hilal) yang dilaksanakan Kamis (17/05/2018) di Kototuo IV Koto, hilal sudah kelihatan sekitar pukul 18/30,” ujar Santi Ismail Putri dari almarhum Tuangku Ismail yang dihubungi NewsHunter, Kamis malam.
Menurut Santi Jemaah Tarekat Syattariah dalam melaksanakan puasa Ramadhan diawali dengan prosesi menilik atau melihat bulan menggunakan mata telanjang dihadiri oleh pemuka-pemuka agama dan jamaah di Koto Tuo hingga Pantai Ulakan, Tiku, Pinggir Koto. “Tarekat Syattariyah memang biasanya lebih lambat satu hari atau dua hari dari pemerintah, ini dikarenakan setiap aliran selalu berbeda-beda,” ujarnya.
Di Kabupaten agam kata Santi terdapat ribuan lebih pengikut tarekat Syattariah, belum lagi di pariaman, di Jambi, di bengklulu dan riau..Sementara d Prosesi melihat hilal di Kototuo IV Koto dilkasanakan di Jorong Galudua sekitar 50 jaraknya dari Masjid Inyik Syeh Tuanku Aluma. Dipimpin oleh Tuangku Ismet
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal bulan Romadhon) maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal) maka berhari rayalah, akan tetapi jika ia (hilal) terhalang dari pandangan kalian maka kira-kirakanlah”, dalam riwayat lain “…maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Inyiak Tuangku Syekh Aluma
Ulama Tarekat Syattariyah dari Kototuo
Inyiak Syekh Angku Aluma adalah salah seorang tokoh agama Islam penganut Tarekat Syattariyah yang mempunyai puuhan ribuan jamaah di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Riau.
Dikutip dari http://surautuo.blogspot.com/ Beliau ialah seorang ulama Tarikat Syathariyah di Darek yang mempunyai pengaruh besar, hingga disebut ketika Ulakan tidak lagi menampakkan pengaruh, nyaris Koto Tuo (dalam hal ini Surau Angku Aluma ini) menyaingi posisi Ulakan, bahkan merebut pengaruh Ulakan dikalangan pengikut Syathariyah.
Dari segi jaringan intelektual, Angku Aluma mempunyai koneksi yang istimewa dibandingkan dengan ulama-ulama Syathariyah lainnya. Ulama-ulama Syathariyah lainnya umumnya menyandarkan silsilah Tarikat Syathariyahnya hanya kepada Syekh Burhanuddin Ulakan Semata, namun Angku Aluma disamping kepada Syekh Burhanuddin, juga menurut garis silsilah lainnya yaitu kepada Syekh Muhammad Saman Aceh (sama-sama berguru kepada Syekh Burhanuddin Ulakan) melalui gurunya Syekh Angku Sutan Koto Tuo, hal mana Angku Sutan mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh terkemuka Paderi Tuanku Koto Tuo.
Dalam sanad sisilah yang terdapat di Kiambang (cabang Syathariyah Koto Tuo), ilmu Tarekat yang dikembangkan oleh Angku Aluma lebih ditekankan kepada gurunya yang tersohor Syekh Tuanku Uwai Limopuluah.
Di Surau Angku Aluma, sebagai halnya Surau Uwai juga mengajarkan keilmuan Islam lewat kitab-kitab klasik, manuskrip, sebahagiannya menggunakan kitab yang sudah dicetak, yang diistilahkan dengan kitab kuning. Bentuk pengajiannya masih model lama yaitu sistem halaqah. Disamping itu, sebagaimana gurunya Tuanku Limopuluah, Syekh Aluma juga terdapat menggubah Sya’ir-sya’ir yang menguraikan pengajian Tubuh.
Diantara murid-murid Tuanku yang kemudian yang berkiprah sebagai jargon Tarikat Syatariyah yakni :
a. Angku Isma’il Koto Tuo
Beliau ialah anak kandung dari Tuanku Aluma . Angku Isma’il ini telah menggerakkan pendidikan di kalangan Syathariyah dengan bentuk Madrasah, sebuah inovasi yang belum dikenal sebelumnya. Yaitu dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyah dan Madrasah Tsanawiyah Syathariyah di Bancah Laweh Padang Panjang. Selain itu dia telah memperkokoh posisi Koto Tuo sebagai sentra Syathariyah setelah Ulakan.
b. Syekh Angku Kiambang (1901-1965)
Beliau merupakan salah satu murid Syekh Aluma yang mempunyai pengaruh Signifikan di Pariaman. Beliau belajar selama 8 tahun di Surau Angku Aluma, dengan 4 tahun dari keseluruhan masa itu dia belajar Tasawwuf, dalam artian Tarikat Syathariyah.
Ajaran-ajaran yang diuraikan Syekh Isma’il ini dapat kita simak dari salinan pengajian yang ditulis muridnya Buya Khatib Yusuf, disalin dalam bentuk tulisan latin, dari tulisan Arab Melayu, kemudian buku ini tersebar dalam bentuk kopian. Diantara isi pengajiannya:
Syathariyah, Syathar dengan makna kashad, artinya yang betul, oleh sebab itu Tarikat Syathariyah artinya jalan yang betul kepada Allah, yaitu shiratal Mustaqim, yakni diri kita sendiri.
………
Tarikat Syathariyah ini diatas mematikan diri sebelum mati.
………
Bahwa rahasia pada pengajian Tarikat sesungguhnya “mengittikatkan sekalian hati dengan hati kepada Rasulullah, sampai kepada Allah.”
Diantara murid-murid Syekh Kiambang ini ialah:
1. Buya Mato Aia Pakandangan
2. Syekh Angku Marajo Sungai Asam
3. Buya Khatib Yusuf, Lakuak- Padang
c. Syekh Paingan Sungai Limau
d. Buya Angku Panjang Sungai Sariak, murid-muridnya ialah:
1. Buya Tapakis Lubuk Alung
2. Buya Angku Sidi Batang Ceno.(zainal Piliang/Ayu)