BUKITTINGGI.Newshanter.com — Ratusan warga Kota Bukittinggi, tepatnya di kawasan RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia, serta di kawasan RT 7 RW 1 Kelurahan Cimpago Ipuh Kecamatan Mandiangin Kota Bukittinggi dievakuasi ke tempat yang aman, setelah rumah mereka terendam banjir setinggi dada orang dewasa, Jumat (6/11).
Untuk RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia, ada sekitar 125 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut, sementara di kawasan RT 7 RW 1 Kelurahan Cimpago Ipuh terdapat 70 KK yang bermukim di kawasan itu.
Menurut keterangan Susi (39) salah seorang warga Pulai Anak Aia, genangan air itu mulai memasuki rumahnya sekitar pukul 14.30 WIB. Hujan lebat tanpa henti yang mulai mengguyur Bukittinggi sekitar pukul 12.55 WIB membuat genangan air itu cepat meninggi, dan puncaknya sekitar pukul 15.00 WIB, ketinggian banjir tersebut telah mencapai dada orang dewasa.
“Dalam dua minggu terakhir, ini banjir ketiga yang kami alami. Pertama saat malam Minggu lalu, setelah itu pada hari Rabu, dan terakhir hari Jumat ini. Tapi banjir kali ini lebih parah dari yang sebelumnya,” ujar Susi.
Susi mengatakan, semua peralatan elektronik miliknya telah diselamatkan ke lantai dua. Hanya saja, seluruh pakaian yang ada dalam lemari tidak sempat diselamatkan, karena banjir juga ikut merendam lemari pakaiannya.
“Air cepat sekali tingginya, sehingga tidak sempat kami menyelamatkan pakaian. Kami sudah menutup rumah, agar semua barang yang ada dalam rumah tidak hanyut dibawa arus, karena arusnya sangat deras sekali,” ucap Susi.
Susi mengaku telah tinggal selama 30 tahun di kawasan itu. Menurutnya, selama 30 tahun itu, rumahnya sudah tiga kali mengalami kebanjiran terparah setinggi dada orang dewasa. “Kalau banjirnya setinggi tumit atau betis, itu sudah tak terhitung. Sudah sering kami alami,” lanjut Susi.
Sementara itu, banjir yang melanda kawasan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukittinggi mengerahkan satu unit perahu karet untuk mengevakuasi warga. Evakuasi ini diprioritaskan bagi bayi dan anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia) dan ibu-ibu.
Meski demikan, tak sedikit kalangan ibu-ibu enggan untuk dievakuasi dan lebih memilih mendekam di rumah mereka masing-masing, meski rumahnya digenangi banjir. Mereka beralasan, dengan menjaga rumah, maka mereka bisa mengontrol isi rumah serta barang berharga mereka, serta bisa mengawasi jika ada binatang melata yang masuk rumah.
Sementara untuk pria dewasa lebih tampak sibuk membantu petugas BPBD untuk mengevakuasi warga. Sebagian lagi pria dewasa tampak sibuk membersihkan sampah-sampah yang terbawa arus, serta tetap berupaya menyelamatkan barang-barang berharga mereka.
Sebenarnya, kawasan RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia dan kawasan RT 7 RW 1 Kelurahan Cimpago Ipuh saling bersebelahan, sehingga tidak menyulitkan petugas untuk menyisir korban yang masih terjebak dalam rumah. Hanya saja, derasnya arus membuat petugas harus bekerja lebih keras lagi untuk mengontrol perahu karet yang dibawa.
Suyerman, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bukittinggi menyebutkan, hujan lebat yang mengguyur Kota Bukittinggi dari siang hingga sore telah membuat sejumlah kawasan di Kota Bukittinggi digenangi air.
“Ada enam titik banjir yang merendam tempat ibadah dan rumah warga di Kota Bukittinggi, diantaranya di kawasan Simpang Tarok, Pakan Kurai, Gurun Panjang, Jalan Melati Simpang Stasiun, Jangkak, serta kawasan Pulai Anak Aia dan Cimpago Ipuh ini. Yang terparah memang dialami Pulai Anak Aia yang bersebelahan dengan Kelurahan Cimpago Ipuh samping Mapolsek Bukittinggi,” ujar Suyerman.
Menyikapi permasalahan banjir yang terus melanda Kota Bukittinggi, khususnya di kawasan Pulai Anak Aia dan Kelurahan Cimpago Ipuh ini, Ketua DPRD Bukittinggi Benny Yusrial ketika meninjau lokasi banjir mengatakan, pihaknya telah mendesak petugas PU untuk turun tangan menyelidiki penyebab utama banjir tersebut.
“Kami telah berkomunikasi dengan masyarakat, telah menghimpun informasi dan telah menerima aduan jika ada bangunan yang menghambat aliran air. Tapi kami belum bisa mengklaim itu penyebabnya, karena harus diselidiki terlebih dahulu. Kami sudah meminta PU untuk menyelidiki itu,” ujar Benny.
Menurut Benny Yusrial, DPRD Bukittinggi nantinya tidak akan mentolerir siapa saja yang telah membuat aliran air tidak lancar, karena menurutnya, ulah orang itu telah membuat dampak yang lebih besar bagi ratusan warga di kawasan Pulai Anak Aia. (hln/nho)
