Palembang,Newshanter,- Fenomena alam langka gerhana matahari total (GMT) yang terjadi di Palembang menyedot perhatin warga setempat dan turis lokal serta mancanegara. Ribuan orang memenuhi jembatan Ampera. Namun, proses terjadinya gerhana matahari di Palembang sempat tertutup awan gelap.

Dua jam jelang Gerhana Matahari (GMT), antusias masyatakat kota Palembang dan warga pendatang memenuhi masjid Agung guna melaksanakan solat subuh berjamaah.berdasarkan pantaun sejak pukul 02.00 malam penjagaan dari aparat kepolisian sudah berjaga-jaga di pelataran Masjid Agung dan diseputaran Air Mancur.
Tidak seperti subuh biasanya, kesadaran masyarakat akan mengerjakan perintah Allah dalam melaksanakan kewajiban sholat dan menyadari ke kuasaan sang penciptan akan terlihat saat fenomenal alam yang ditunggu-tunggu.

Namun Sayang, momen yang ditunggu-tungu saat bayangan bulan menutupi matahari ini tidak bisa terlihat jelas dari atas Jembatan Ampera. Gumpalan awan besar terlihat menutupi matahari. Terang saja gerhananya menjadi tidak bisa terlihat.
Gerhana matahari dimulai sekitar pukul 06.20 WIB, tampak awan hitam menutupi posisi matahari. Awal proses GMT pun tak terlihat dengan jelas.Sekitar pukul 06.39 WIB hingga 06.41 WIB, bergesernya bulan menutupi matahari bisa dilihat dengan mata telanjang, karena awan hitam sudah menipis.

Namun, hal itu hanya berlangsung selama 2 menit saja. Lalu, awan hitam kembali menutupi proses gerhana matahari. Barulah sekitar pukul 07.07 WIB hingga 07.08 WIB, awan kembali membuka dan terlihat proses gerhana matahari total terjadi.
Lagi-lagi awan hitam kembali menutupi fenomena alam ini dan saat gerhana bulan penuh, hanya terlihat perubahan dari terang ke gelap tanpa bisa dilihat secara keseluruhan bentuk gerhana bulan penuh.Teriakan syukur dan Allah hu akbar pun berkumandang di atas Jembatan Ampera. Begitu juga hallnya halaman masjid agung warga pun bersyukur.

Barulah sekitar pukul 07.40 WIB hingga 07.41 WIB, para pengunjung Jembatan Ampera bisa melihat matahari berbentuk bulan sabit, karena proses menghilangnya gerhana matahari.
Penonton pun terlihat kecewa, beberapa sempat bersorak saat awan bergerak dan memperlihatkan sedikit penampakan matahari. Namun sorak-sorai itu berganti jadi gumaman ‘Huuu’ saat gumpalan awan kembali menutup matahari.
“Yah, jadi tidak kelihatan mataharinyo,” kata salah satu pengunjung.
Dilanjutkan pada pukul 08.07 WIB-08.09 WIB dan 08.12 WIB-08.14 WIB terlihat jelas proses timbul kembalinya matahari penuh. Lalu matahari tertutup awan dan turun rintik gerimis di atas Jembatan Ampera.
Kegelapan Gerhana Bulan penuh selama 1 menit 20 detik pun bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat Palembang di daerah Plaju, Bandara dan lainya dapat menyasikan gerhanana total.
Ibu Suryati yuliar warga kebon bunga km 10, kepada Newshanter, mengaku dapat menyasikan gerhana tota, benar bernar indah ” itulah kebesaran Allah.Entah kapan kita bisa menikmati lagi.” ujarnya.

Alex Noerdin Kita Patus Bersyukur
Sementara itu Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH, bersama walikota Palembang Harnojono, menyasikan gerhana di Jembatan Ampera. orang nomor satu di sumsel, bersama rombongan menuju Jembatan Ampera setelah menunaikan sholat subuh, sekitar jam 5.45 sampai Alex di jembatan ampera.
Usai menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) di atas Jembatan Ampera Palembang, Rabu (9/3/2016) pukul 07 30. Alex Noerdin dalam sambutannya menngatakan, Saudara-saudara kita sudah menyaksikan Gerhana Matahari Total pada pukul 07.20 55 detik. Ini merupakan fenomena alam. 300 tahun lebih lagi.

” Kita Patut bersyukur Allah memberikan kesempatan. Sumsel dalam proses mengembalikan kejayaan Sriwijaya. Kita bangga menjadi warga Sumatera Selatan,” seru Alex Noerdin.
Meski sempat tertutup awan, Alex juga mengungkapkan rasa kagum fantastisnya melihat langsung fenomena alam ini.
“Yang hebatnya itu moment-moment GMT menjelang pukul 07.20. Langit terang, jadi redup, gelap, gelap jadi seperti malam hari. Itu kamu 300 tahun lagi. Kalo lah dak katek lagi,” ujar Alex Noerdin.(zainal piliang. Tommy)








