Home / breaking / Dua Kali Eksekusi Penahanan Terpidana Perkara Tanah Ditunda, Puluhan Korban Tjik Maimunah Segera Surati Presiden
Puluhsn korbsn dugaan penyerobotan tanah oleh terpidana Tjik Maimunah. Foto. Syf

Dua Kali Eksekusi Penahanan Terpidana Perkara Tanah Ditunda, Puluhan Korban Tjik Maimunah Segera Surati Presiden

PALEMBANG, newshanter.com − “Allahu Akbar, semoga Allah mengambulkan do’a kami yang terzholimi, semoga Allah membalaskan kepada keluarga Tjik Maimunah, kezholiman akan terbukti semua nantinya,” begitulah ungkapan kekesalan dan kesedihan salah seorang dari puluhan korban dugaan kasus penyerobotan tanah. Sekaligus para korban mempertanyakan 2 kali penundaan eksekusi penahanan dari pihak kejaksaan melaksanakan putusan Makamah Agung (MA) yang menjatuhkan hukuman pidana 3 bulan penjara untuk terpidana Tjik Maimunah.

Salah satu korban penyerobotan tanah atas dugaan perbuatan terpidana Tjik Maimunah. Tanzili Zachri mengatakan, ditahun 2006 pernah membuat laporan atas penyerobot tanah miliknya.

“Tanah saya yang berada diwilayah 16 Ulu. Jalan Pertahanan Ujung, tapi laporan saya pada pihak kepolisian tidak naik. Rupanya bukan hanya saya korban Tjik Maimunah, ada puluhan korban yang senasib dengan saya. Namun pada saat ini, ibu Ratna Juwita ujung tombak kami, yang begitu ngotot dalam membela haknya dari tahun 2015. Dia berusaha menghadapi semua kendala, baik di kepolisian di kejaksaan dimana-mana termasuk dilapangan dengan ancaman,” ungkapnya.

Menurut Tanzili Zachri, ancaman itu bukan tidak berdasar, namun ada dasarnya, itu pernyataan dari para korban memang mereka diancam. Kalau yang seperti ini apakah bukan mafia tanah, terlepas dari itu sekarang eksekusi sebagai vonis yang inrach dari Makamah Agung sudah dijatuhkan.

“Saya sudah melihat ada surat eksekusi, menurut pengamatan kami alangkah layaknya kalau dia (terpidana,red) dibawah kerumah sakit sebab terpidana itu hak-haknya sebagian sudah dihilangkan terutama hak kebebasan. Kalau dia (terpidana Tjik Maimunah) masih dirumah, masih punya kebebasan untuk berkumpul dengan keluarga, untuk berbuat macam-macam, termasuk konsekwuensi dari batalnya eksekusi itu. Korban dan masyarakat sebagian menganggap mereka itu kebal hukum dan juga berdampak pada mengulangi perbuatan, menghilangkan barang bukti ataupun melarikan diri, kemana kami minta pertanggung jawaban kalau sudah seperti ini. Saya kira jabawan-jawaban sudah ada pada semua pengamat, pada semua pakar, kami mohon beri kami jalan keluarnya yang aktif,” beber Tanzili kepada wartawan, Rabu (02/03/22).

Disoal langkah hukum apa yang akan diambil, setelah batalnya 2 kali eksekusi terpidana Tjik Maimunah yang divonis 3 (tiga) bulan penjara oleh  Makamah Agung.

“Kami sudah rembukan bukan mengambil sikap pribadi, sebab kami sudah berkumpul, kami berusaha untuk membuat surat kepada pihak-pihak yang berkompenten seperti Makamah Agung, ke pihak Kejaksaan Agung ke Kemenkumham bahkan ke Presiden, InshaAllah tolong bantu kami dengan do’a. karena kami sudah lama menderita atas perbuatan Maimunah, kami gak bisa apa-apa, kami terzolimi hak kami diambil, ini baru sebagian kecil korban yang ada, ingat azab Allah,” tegas Tanzili sembari meneteskan air mata sedih.

Disela-sela wawancara, ibu-ibu yang merasa terzolimi ini meneriakan kalimat tauhid sambil menangis. “Allahu Akbar, semoga Allah mengambulkan do’a kami yang terzholimi semoga Allah membalaskan kepada keluarga Tjik Maimunah, kezholiman akan terbukti semua nantinya,” dan do’a tersebut di aamiinkan oleh para korban yang hadir.

Senada dengan itu, salah satu korban, Dahri mengatakan, dalam hal dirinya menilai bukan hanya Tjik Maimunah saja yang terlibat, seperti Lurah, Camat pasti terlibat. Seperti contoh, tanah miliknya sudah dibeli untuk bangun sekolah.

“Tanah saya beli tersebut dari Tjik Maimunah, saya laporkan di Polda tahun 2020, tetapi dijual lagi oleh Tjik Maimunah tahun 2021, padahal sudah saya panjar uang sebesar Rp.250 juta, tanah tersebut dijual lagi oleh Tjik Maimunah dengan harga sebesar Rp.40 juta. Berarti ini ada permainan antara lurah dan camat, dimana surat 1 ditimpah lagi. Saya laporkan ke Polda itu termasuk mafia,”cetusnya.

Disinggung mengenai eksekusi yang batal oleh pihak kejaksaan terhadap Tjik Maimunah dengan alasan sakit, menurut Dahri salah satu korban menuturkan, alasan sakit dalam hukum sebagaimana KUHAP Pasal 1 butir 21, apapun alasannya tetap ditahan. Mudah-mudahan yang menjadi korban-korban ini akan mendo’akan keberhasilan para pejabat untuk dapat menahan Tjik Maimunah.

Sementara salah satu korban lain, yang hari ini Rabu (02/03/22) di panggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan mengenai perkara tanah yang pelakunya diduga Tjik Maimunah. Yakni  korban M Halim Musa.

“Laporan saya ini dari tahun 2020, bukan hanya saya sendiri tapi banyak rombongan, sudah berkali-kali dipanggil tapi tidak ada kelanjutannya. Sampai disitu saya hanya diam sepertinya kasus ini dipendam. Laporan saya itu lokasi tanahnya di 16 Ulu,” pungkasnya.

Pada pemberitaan sebelumnya usai eksekusi, Senin (01/03/22), Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Palembang, Agung Ary Kesuma mengatakan, pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk melaksanakan eksekusi kepada Tjik Maimunah, namun dari hasil pemeriksaan dokter, terdakwa masih dalam kondisi sakit. “Tensi dan gula darahnya memang tinggi, kondisi yang bersangkutan juga struk.”

Sementara secara terpisah kuasa hukum terpidana Tjik Maimunah, yakni Tities Rachmawati SH MH, mengatakan bahwa kasus yang menjerat kliennya perkara perdata bukan pidana. (Syf)

 

About Syarif Umar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Berita Lain

Tak Terima Anaknya di Pacari dan di Tiduri, Seorang Ayah Laporkan Pelaku Ke Polsek XIII Koto Kampar

XIIIKOTOKAMPAR,newshanter.com – Jajaran Polsek XIII Koto Kampar berhasil meringkus seorang pemuda, pelaku ...