Diduga Terkait Aksi Anarkis 4 November Sekjen HMI dengan Empat Kader HMI dItangkap

Jakarta.Newhanter.com, Sekjen PB HMI Amijaya beserta empat kader HMI lainnya ditangkap polisi Selasa (8/11/2016 ) dini hari terkait Aksi Bela Islam pada 4 November 2016 di depan istana negara Jakarta.

Sebelumnya tidak lama setelah ricuh dalam demo damai 4 November, di media sosial tersebar foto-foto “pelaku” kericuhan. Ada yang aktivis, penyusup beragama nonmuslim, hingga wartawan. Mereka disebut-sebut sebagai biang onar. Untuk yang wartawan sudah diklarifikasi, katanya dia bukan provokator.

Salah satu foto yang menjadi viral di media sosial dan akhirnya berurusan dengan polisi adalah foto bergambar seseorang yang memakai atribut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).Belakangan diketahui ia bernama Ismail Ibrahim, 23 tahun.

Ismail adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Mahasiswa semester lima jurusan Sosiologi itu juga aktif di kampus, tercatat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi.

Pada Senin, (7/01/2017) malam, ia akhirnya ditangkap polisi. ketika berada di rumah anggota DPD RI, Basri Salama, di bilangan Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Basri adalah anggota DPD RI dari Maluku Utara. Ia pun pernah aktif di HMI serta organisasi lainnya, seperti KNPI dan Partai Bintang Reformasi.

Lantas, apa hubungannya Ismail dengan Basri? Ternyata mereka satu kampung. Sama-sama berasal dari Pulau Tidore. Berdasarkan informasi, Ismail sudah setahun tinggal di rumah Basri Salama.

Basri mengajak Ismail untuk tinggal di rumahnya, karena Ismail tidak mampu bayar kontrakan. Kini, Ismail tengah berurusan dengan hukum.

Sekjen HMI ditangkap Di Sekretariat

Selain ismail juga ditangkap, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Amijaya ditangkap polisi. Penangkapan dilakukan di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung No. 25A, Jakarta Selatan, Senin (07/11/2016) malam.Wakil Bendahara Umum PB HMI Tegar Putuhena, yang juga termasuk dalam tim kuasa hukum Amijaya, membenarkan hal tersebut.

“Sekitar pukul 23.00 WIB, terdapat beberapa polisi berbaju preman yang datang ke sekretariat dan mencari Sekjen PB HMI, Amijaya,” ujar Tegar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/11) dini hari.

“Mereka datang membawa surat penangkapan dan menyebut ada kaitannya dengan aksi 4 November kemarin,” tambahnya.Saat hendak melakukan penangkapan, sejumlah pengurus PB HMI sempat bersitegang dengan petugas kepolisian. HMI menganggap tindakan aparat telah melanggar hukum.

“Itu termasuk tindakan melanggar aturan hukum karena mereka langsung masuk, naik ke lantai dua dan melakukan penangkapan tanpa memberi penjelasan,” sebut Zaenal, pengurus PB HMI yang berada di tempat kejadian, kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.

Saat ini, polisi telah membawa Amijaya ke Polda Metro Jaya untuk diperiksa. Amijaya didampingi Ketua Umum PB HMI Mulyadi P Tamsir. Tegar menambahkan, hingga saat ini tim kuasa hukum PB HMI belum dapat menemui Amijaya. Namun pihaknya menegaskan akan terus melakukan langkah-langkah hukum guna memastikan hak-hak Amijaya sebagai warga negara terpenuhi.

“Kami telah menyiapkan langkah-langkah hukum seperti pendampingan dan memastikan hak-hak Amijaya sebagai warga negara terpenuhi,” sebutnya. Sebelumnya, polisi juga meringkus salah satu aktivis HMI Ismail Ibrahim yang diduga kuat melakukan penyerangan ke aparat dalam aksi demonstrasi 4 November. Dia ditangkap di rumah anggota DPD RI Basri Salama.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan, Ismail Ibrahim diduga ikut melakukan penyerangan terhadap aparat.

“Yang bersangkutan ikut temannya menyerang petugas,” kata Hendy, sembari menambahkan Ismail bersama pendemo lain terlibat penyerangan terhadap aparat usai diprovokasi seorang orator yang berada di atas mobil komando.

Saat ini Ismail tercatat sebagai mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi di sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan. Dia juga merupakan ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi.

Dalam Aksi Bela Islam 4 November 2016 lalu, HMI dituduh sebagai provokator. Saat demonstrasi, beberapa media melaporkan massa HMI cukup agresif. Terlihat sekelompok demonstran yang memegang bendera HMI mencoba menerobos pagar beton dan pagar kawat berduri di lampu merah depan Istana Kepresidenan di Jalan Merdeka Barat.

Selain itu, sempat terjadi aksi saling dorong disertai pelemparan botol dan batu kepada personel kepolisian. Merespon perlawanan dari massa, polisi terpaksa menembakkan gas air mata kepada para demonstran.

Akibat kericuhan tersebut, satu orang warga meninggal dunia karena mengalami asma. Selain itu, terdapat 21 kendaraan, baik milik TNI-Polri atau umum yang dirusak dan tiga kendaraan di antaranya dibakar. Jumlah demonstran yang mengalami luka sekitar 250 orang.

Di luar massa demo, sebanyak 100 orang mengalami luka. Mereka terdiri dari 79 personel Polri (11 di antaranya dirawat inap), 15 masyarakat umum, lima personel TNI dan satu personel Pemadam Kebakaran.(CNNi/BB)

Ismail Ibrahim. foto fb
Ismail Ibrahim. foto fb

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *