Balada Asmara Suku Baduy

By : Khoiriah YS (Ria)

 

Terpaut Kasih Gadis Baduy luar 

“Tak perduli sejauh apa jarak diantara kita. Tak kurisaukan konsekuensi apa yang akan ku lalui. Dalam galauku, kutemukan dirimu pengobat risaunya hatiku, pengisi hampanya jiwaku (kys).”

Kalimat diatas meng-ilustrasikan kisah cinta pak Samin, yang setelah ditinggal mendiang almarhumah istrinya. Lalu, rela keluar dari kampung Cikeusik –salah satu kampung di desa Kanekes kawasan Suku Baduy Dalam (tangtu)– demi sang kekasih tambatan hatinya.

Pak Samin yang dikenal warga dipanggil ayah Silvi ini, kini telah menjadi salah satu warga kampung Kadu Ketug I (kawasan suku Baduy Luar) desa Kanekes kabupaten Lebak provinsi Banten. Suami dari ambu Rasti –ambu sebutan Sunda untuk ibu– dengan terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya, terpisah jauh dari keluarga dan sanak saudaranya, karena menikahi gadis kampung suku Baduy Luar.

Malam itu, malam tanggal 16 Januari 2026, ketika kami berbincang-bincang di teras rumah pak Samin, saat kami berkunjung ke Desa Kenekes dalam rangka Kemah Budaya di kawasan Suku Baduy yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat sebagai rangkaian awal menyambut puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026, pak Samin menceritakan kronologis kepergiannya dari kampung tercintanya hingga menemukan belahan jiwanya, dan akhirnya menetap di kawasan kampung suku Baduy luar (penamping).

Dengan mata berbinar-binar dan sesekali menatap awan di kegelapan malam, anak ke 2 (dua) dari 7 (tujuh) bersaudara ini meng-kisahkan sepenggal perjalanan hidupnya dari masa bujang (belum menikah) hingga melepas masa lajang bahkan sampai dua kali menikah yang berakhir dia harus keluar dari Baduy Dalam. Sebelumnya pak Samin telah menikahi gadis kampung Baduy Dalam. Namun pernikahannya tidak abadi di dunia karena istrinya telah mendahului menghadap sang pencipta.

Dalam kegalauan ditinggal pujaan hati, pak Sarmin lama tidak memiliki pengganti almarhumah mendiang istrinya. Sebagai seorang duda, sebagaimana makhluk Tuhan yang lainnya, ia juga punya keinginan pendamping baru yang akan menemani semasa hidupnya. Sementara mencari perawan atau janda di kampungnya tak kunjung bersua.

“Saya mendapat cerita dari teman yang sering keluar kampung bahwa ada gadis dari kampung (Baduy) luar,” ujarnya sembari menyeruput kopi hitam khas Baduy dengan gula arennya.

Kami yang merupakan peserta Kemah Budaya di kawasan suku Baduy dengan khusuk mendengarkan kisah pak Samin. Tidak jarang pula diantara kami yang berjumlah 7 (tujuh) orang dari 40 (empat puluh) peserta yang menginap di rumah pak Samin, melontarkan komentar-komentar bercanda kepada pak Samin dan atau ke sesama kami. Apalagi topik pembicaraan atau pertanyaan-pertanyaan tentang asmara, kendati malam kian larut, tak terasa canda dan tawa namun tetap menjaga kesantunan dan saling menghormati, menghiasi suasana malam meski di langit tanpa bintang karena sebelumnya di petang hari cuaca mendung dan sempat turun hujan rintik-rintik sebentar.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Berawal dari cerita teman sekampungnya itulah membuat pak Samin menapaki jalan keluar dari Baduy Dalam. Sembari menerangkan hati dan menghibur diri sejak ditinggal kekasih, sekaligus mencari jodoh. Namun jauh sebelum itu, di masa anak-anak dan remajanya pak Samin memang pernah ingin melihat dunia luar dari Baduy Dalam. Tak tanggung-tanggung, dia tidak hanya mengunjungi kampung Baduy Luar, tetapi bahkan hingga ke kota Rangkas Bitung, ibukota kabupaten Lebak provinsi Banten.

Di kawasan Baduy Luar, tepatnya di kampung Kadu Ketug I, pak Samin terpaut kasih dengan gadis belia bernama Rasti yang biasa dipanggil warga dengan sebutan ambu Silvi. Yang pada akhirnya pak Samin pun meminang Rasti. Awalnya orang tua pak Samin (bapak kolot dan istri bapak kolot) tidak menyetujui. Bukan tanpa alasan tetapi karena merasa sedih akan kehilangan atau berjauhan dengan anaknya yang biasanya selalu bersama di kampung halaman. Di sisi lain bapak kolot dan istri bapak kolot tidak ingin egois mengenyampingkan kebahagiaan buah hatinya. Apalagi pak Samin belum mendapatkan belahan jiwa pengganti almarhumah istrinya. Dengan berat hati perayaan pernikahan pun dilaksanakan walau konsekuensinya bapak kolot dan keluarga di kampung halaman dengan anaknya Samin akan terpisah antara Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Saat ini pak Samin atau bapak Silvi hidup bersama istrinya Rasti atau ambu Silvi, dan telah dikaruniai anak bernama Silvi yang kini sudah berusia 15 (lima belas) tahun. Bahkan Silvi sudah dilamar calon suami yang berasal dari kampung Kadu Ketug III yang menurutnya 6 (enam) bulan ke depan akan merayakan pernikahan dengan sang perjaka bernama Sardi.

Melanggar Pantangan Tradisi Leluhur

Malam semakin dingin. Silir angin menyentuh kulit kami yang tidak terselubungi helai demi helai benang pakaian. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju ruang tengah rumah pak Samin hanya untuk mengambil kaos kaki di dalam tas ransel guna memberikan kehangatan di jari jemari kakiku. Teman sesama wartawan dan sastrawan yang juga menginap di rumah pak Samin pun, sembari berbincang-bincang, juga sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menikmati kudapan yang sudah disediakan oleh ambu Silvi, merubah posisi duduk agar nyaman dan lain-lain. Bahkan ada yang mengambil bantal dari ruang tengah lalu merebahkan tubuh di teras rumah.

Kami terlarut dengan rasa keingin-tahuan kami mendengar lebih banyak lagi tentang kisah tereliminasinya pak Samin dari Baduy Dalam, membuat kami terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Kendati pak Samin terkadang menjawab dengan singkat-singkat tetapi tetap saja ia melayani setiap untaian kata yang melayang dari mulut kami.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebelum menikah dengan Rasti, Samin pernah pergi ke kota Rangkas Bitung. Berawal dari ingin mencari pasangan hidup, muncul penasaran ingin melihat dunia luar lebih jauh dari kawasan suku Baduy seperti impiannya dimasa remaja. Sebagai warga suku Baduy Dalam yang paling taat pada tradisi leluhur (pikukuh) dan menolak modernisasi, seyogyanya pak Samin harus menempuh perjalanan ke kota Rangkas Bitung dengan berjalan kaki. Akan tetapi pak Samin telah melanggar aturan adat tersebut dengan menempuh perjalanan menggunakan moda transportasi angkutan umum dari Ciboleger –pintu masuk Baduy Luar atau biasa disebut terminal Ciboleger—menuju ke kota Rangkas Bitung.

Kendati pak Samin tetap selalu mengenakan pakaian adat khas suku Baduy Dalam berwarna putih atau hitam dan ikat kepala putih yang melambangkan kesucian dan belum terpengaruh budaya luar. Tetapi tetap saja pak Samin dipandang telah melanggar aturan adat pikukuh yang sangat ketat memegang pantangan adat, seperti larangan menggunakan teknologi angkutan umum, dan tidak jauh dari kampung halaman.

Belum begitu lama pak Samin menikmati kota Rangkas Bitung dan menginap di rumah temannya, dia dijemput oleh pamannya dengan berjalan kaki dari Baduy Dalam ke Rangkas Bitung dengan jarak tempuh sekitar 50 (lima puluh) kilometer atau lama perjalanan sekitar 12 jam berjalan kaki.

Tak dapat dielakkan, pak Sarmin pun harus menjalani sanksi dari adat yang diputuskan melalui musyawarah adat dan dipimpin oleh lembaga adat atau Pu’un (pemimpin adat) berupa teguran, peringatan, dan atau denda adat yang diselesaikan secara musyawarah.

Mandi kepalang basah. Pak Samin sudah melakukan pantangan adat dengan menaiki bus angkutan umum, ia pun menikahi Rasti gadis suku Baduy Luar, yang membawa dirinya tidak dapat lagi kembali menetap ke kampung suku Baduy Dalam. Meskipun masih bisa berkunjung ke kampung Baduy Dalam, tetapi sebagai pendatang atau tamu di tanah kelahiran yang hanya bisa menginap dua atau tiga malam saja.

Tak terasa jam tanganku sudah menunjukkan lebih dari pukul 12.00 malam waktu Indonesia barat (WIB). Ingin rasanya berbincang-bincang lebih lama lagi dengan keluarga pak Samin. Tapi mata kami sudah mulai redup seperti sinar bola lampu 5 watt. Belum lagi rasa penat menyelimuti tubuh kami, karena sejak pagi pukul 06.00 wib kami sudah menempuh perjalanan dari kota Jakarta menuju kabupaten Lebak Banten dan mengikuti rangkaian kegiatan di kota Banten mulai dari seremonial pembukaan kegiatan Kemah Budaya Kawasan Suku Baduy hingga mengunjungi Museum Multatuli Banten. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus menuju terminal Ciboleger, lalu berjalan kaki lebih kurang sekitar 15 menit sampai ke rumah kepala desa Kanekes, Jaro Oom –Jaro sebutan kepala desa/pimpinan. Dan menjelang waktu azan Maghrib kami pun tiba di rumah pak Samin untuk menginap.

Dilema Perawan Baduy Dalam

Menjalani hidup sebagai perawan di kawasan suku Baduy Dalam adalah antara pilihan dan kepasrahan karena dirasuki rasa penasaran dan keinginan untuk melihat dunia luar sebagaimana impian pak Samin di masa remaja. Tidak semua gadis kampung Baduy Dalam yang menerima sepenuh jiwa atas perjodohan orang tua dengan pasangan hidupnya, meski tetap menjalani kehidupan rumah tangganya karena patuh dan taat dengan tradisi adat leluhur.

Ibarat pungguk merindukan bulan. Kendati ada keinginan menikah dengan perjaka di luar suku Baduy Dalam agar dapat melihat dunia luar dengan segala konsekuensi termasuk di usir atau harus keluar dari kawasan Baduy Dalam, tetapi perawan Baduy Dalam tetap saja menolak setiap lamaran dari laki-laki yang datang dari luar. Bukan tanpa alasan atas penolakan tersebut. Namun karena khawatir jika rumah tangga mereka kelak tidak baik-baik saja atau terjadi perceraian, sementara mereka tidak bisa lagi kembali ke kampung halamannya Baduy Dalam. Beberapa faktor lainnya pun mempengaruhi pemikiran para gadis di kampung Baduy Dalam seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya bagi perawan Baduy Dalam yang punya keinginan melihat dunia luar, memilih pasrah dengan perjodohan.

Seperti dikisahkan oleh teh Era, salah seorang warga kampung Kadu Ketug III, ia mempunyai teman sepermainan masa kecil di kampung Cibeo (Baduy Dalam), pernah bercerita ingin sekali melihat suasana di luar suku Baduy Dalam. Teh Era yang berasal dari kampung Cisaban (Baduy Luar) ini sering bertemu dengan temannya tersebut saat teh Era berkunjung ke kampung Baduy Dalam seperti ketika acara Ritual Kawalu Suku Baduy.

Ritual Kawalu ini merupakan upacara adat tahunan yang dilakukan tiga kali setahun (Kasa, Karo, Katiga) sebagai ungkapan syukur atas panen, penyucian diri dari nafsu buruk, dan memperkuat hubungan spiritual, melibatkan puasa, pembersihan lingkungan, penggunaan pakaian adat (bagi Baduy Dalam putih, Baduy Luar hitam), serta ritual doa dan saji, dan menyebabkan penutupan sementara Baduy Dalam bagi pengunjung karena fokus pada kesucian lahir batin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *