Bandung,Newshanter,Com, Media sosial beberapa hari ini dihebohkan foto senonoh mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung.
Mahasiswi berinisial RA itu mengunggah empat foto senonoh di akun Facebooknya. Salah satu yang cukup banyak digunjingkan adalah ketika RA berfoto hanya mengenakan bra berwarna putih.
Foto itu bahkan diberi caption yang cukup menggoda. “Cantikan yang mana menurut bapa? Kasih nilai dong.., kayak ujian UAS kemarin ya pa;)?” tulis RA di foto tersebut.
Dilansir Kabar24 mengutip Tempo.co, RA sebenarnya telah dihukum oleh pihak kampus. “Saat ketahuan, yang bersangkutan langsung dipanggil. Dia mengaku foto itu dirinya.
Berdasarkan hasil rapat pimpinan, kami langsung men-drop out/DO) yang bersangkutan,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Bandung, M. Ali Ramdhani.
Di depan sidang jajaran Rektorat UIN Gunung Djati, RA mengaku sebagai dirinya dalam foto itu dan mengunggahnya dalam kondisi sadar.
Menurut M. Ali, kelakuan RA telah melanggar norma dan kode etik yang telah dibuat kampus. Keputusan mengeluarkan RA pun berlandaskan aturan tersebut.
“Kami memegang tiga aturan, yakni dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, dan aturan yang dibuat kampus. Kelakuan yang bersangkutan tersebut sudah jelas melanggar ketiga aturan tersebut,” tegasnya.
RA sempat tercatat sebagai mahasiswi di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Bandung. Sebelum di-DO, mahasiswi tersebut duduk di semester VI. Saat menelusuri keberadaan foto-foto seronok RA, akun Facebook yang sempat menyimpan foto tersebut sudah lenyap.
Sementara itu menurut Kepada Kepala Jurusan PMH Dudang Gozali, wanita cantik asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini mengaku sudah tujuh bulan menjadi ‘ayam kampus’.
Dudang telah mengkonfirmasi orangtua RA di Tasik. Orang tua RA sendiri kaget karena tidak tahu sang anak menjadi ‘ayam kampus’.
“Dia bilangnya ke orangtua kalau dia kuliah sambil kerja. Katanya dia kerja di rumah makan. Uang hasil jual diri sebagian dia kirimkan ke orangtuanya di kampung,” kata Dudang kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.
RA memasang tarif Rp 2,5 juta untuk dua jam kepada pria hidung belang yang ingin membookingnya. Terkadang satu pelanggan bisa membooking RA lebih dari dua jam.
Dalam semalam biasanya dia bisa mendapatkan uang hingga Rp 6 juta hanya dari satu orang yang membooking. Kebanyakan pelanggannya berasal dari luar Bandung, terutama Jakarta.
Mereka berasal dari kalangan pengusaha dan pejabat. RA mengatakan tidak ada orang Bandung atau dari kalangan UIN yang pernah membooking dia.
“Saya sudah tanyakan ada tidak orang UIN yang pernah booking dia. Dia bilang tidak pernah. Saya tanya sekali lagi dengan tegas. Tapi dia tetap bilang tidak ada,” tutur Dudang.
mahasiswi berprestasi
Di kampus RA dinilai sebagai mahasiswi yang berprestasi, pintar, dan rajin. Tiap semester indeks prestasi (IP) yang diraihnya selalu di atas tiga. Di mata teman-temannya RA juga dikenal sebagai teman yang sangat baik, polos, dan jarang absen. RA juga senang membaca buku dan sering ke perpustakaan.
“RA sangat rajin dan baik. Teman-teman sering nyontek tugas dari dia. Dulu dia juga pernah jualan keripik selama setahun. Kita gak pernah ada yang tahu kalau RA bisa terjebak di dunia seperti itu,” kata Setyo, salah satu teman sekelas RA.
Kasus RA membuka mata bahwa fenomena ‘ayam kampus’ hingga kini masih terjadi. Namun demikian, tepatkah sikap UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengambil sikap dengan mengeluarkan RA dari kampus?
Dunia pendidikan harusnya bertanggungjawab karena ada peserta didiknya yang terjerumus ke lembah hitam. Pembinaan, pembenahan mental dan akhlaq seharusnya diberikan kepadanya agar berhenti dari kegiatannya itu dan kembali menjadi manusia yang tak menjual tubuhnya demi rupiah.(*)





