PALEMBANG -Newshanter.com- Branch Manager Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumsel Ardiansyah menyatakan saking semangat peduli akan nasib umat Islam yang ada di Rohingnya Myamar, pihaknya menargetkan penggalangan dana minimal Rp 5 milyar.
“Target penggalangan dana kita minimal Rp 5 M dari Sumsel. Karena target kalau bisa beli Pulau di Sumsel kalau mereka tidak bisa ada tempat aman lagi di Myanmar,” ungkap Ardiansyah pada rapat konsolidasi Indonesia Selamatkan Rohingya di Sekretariat ACT, Senin (4/9/2017).
Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh militer Myamar terhadap umat Islam yang ada di Rohingnya Myamar ditentang keras oleh seluruh manusia yang ada di seluruh dunia, termasuk juga umat Islam yang ada di Sumsel, yang akan mengelar aksi dan tabligh akbar dan pengalangan dana dengan tema gerakan umat Islam di Sumsel peduli Rohingya.
Aksi pengalangan dana dan tabligh akbar akan berlangsung pada pada 9 September 2017 malam dipusatkan di Benteng Kuto Besak (BKB).
”Target massa yang akan datang nanti sekitar 5 ribu masa,” kata Ardianysah.
Pihaknya mengundang seluruh elemen masyarakat, lintas agama, pemerintah, pejabat, pengusaha, parpol, donatur dan lainnya, sehingga semakin banyak masyarakat yang hadir secara langsung dalam tabligh akbar nanti.
Menurur Ardiansyah, target pengalangan dan yang akan didonasikan kepada umat muslim Rohingya Rp 5 miliar, sebelum dilakukan aksi damai tersebut, pihaknya akan melakukan pengalangan dana melalui door to door, infaq dari masjid, maupun lembaga lainnya.
“Dengan ini maka akan banyak memberikan bantuannya untuk Rohingya, baik itu berupa uang maupun beras yang sangat berarti bagi Rohingna,” jelasnya.
Seluruh penghimpunan dana dijadikan satu pintu via ACT baik datang secara langsung maupun via transfer bank, nomor rekening BNI Syariah dengan nomor 66 0000 5505 atau melalui bank mandiri 127 000 781 6612.
Pihaknya meminta pemerintah pusat harus bersikap tegas terhadap persoalan Myanmar sesuai dengan amanat UUD, serta tolak kontigen Myanmar untuk menjadi peserta Asian Games 2018 selama mereka tidak menghentikan genosida di Rohingya.
“Yang ketiga tutup kedutaan besar Myanmar di Indonesia dan tarik Dubes Indonesia di Myanmar, yang pasti kami sangat mengecam dan mengutuk keras apa yang dilakukan oleh Militer, pemerintah selama ini kepada etnis Rohingnya,” pungkasnya.
Ardiansyah meminta secara khusus kaum Budha Sumsel menyampaikan sikap dan tegas bahwa itu bukan ajaran Budha. “Di Jakarta sudah buat. Kita akan kumpulkan Pembimbing Masyarakat Budha Sumsel. Itu pemerintahan. Bukan soal agama. Sudah dinyatakan. Orang kita sudah ke sana,” kata Hindra Lilik, Ketua Majelis Budayana Sumsel.
Ketua Forum Umat Islam Sumsel Drs H Umar Said mengatakan gerakan ini bagi umat Islam merupakan gerakan wajib.Menurutnya kaum muslim itu satu bangunan, satu tubuh. Ketika ada muslim yang sakit. Itu derita umat muslim lainnya. Panggilan syariat ketika ada musuh-musuhnya.
“Kedamaian itu didorong semua negara. Indonesia jadi inisiator. Mengingat umat Islam Indonesia merupakan mayoritas. Ini hanya merupakan gerakan agar tidak kamuplase. Semestinya Myanmar itu menghargai. Termasuk olahraga simbol perdamaian.
Apalah artinya mereka datang kalau di sana masih tetap begitu. Penolakan di Asian Games cukup logis. Untuk apa simbol. Harusnya dihargai dan dihormati etnis lain yang sudah lama tinggal di situ. Seperti halnya di Indonesia. Mereka kan bukan pendatang. Mereka lahir di sana. Ini bertentangan dengan Human Right,” kata Umar Said. (sp/fil)









