Home / HuKrim / Sejumlah aktivis dukung polisi Kasus OTT Seret pelaku kemeja hijau
Kepala MtS 1 Palembang Tugino/ foto ist

Sejumlah aktivis dukung polisi Kasus OTT Seret pelaku kemeja hijau

Palembang. newshanter.com- Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) dugaan pemerasan terhadap Kepala MTsN 1 Palembang yang dilakukan oleh oknum LSM berinisial HM (35) terus bergulir

Sejumlah aktivis dan mahasiswa mendukung Polda Sumsel segera menuntaskan kasus yang meresahkan dunia pendidikan itu diseret ke meja hijau.

“Kami mendukung Polda menuntaskan kasus dugaan pemerasan ini hingga ke meja hijau, apalagi ini kasus OTT. Berita-berita OTT dari berbagai media (pers) sudah kami kliping. Kami berharap dengan penangkapan dan pengungkapan kasus ini, semoga kasus serupa tidak terulang di dunia pendidikan. Jadikan penangkapan ini sebagai efek jera,” kata Drs. H. Sahnan, Ketua Komite MTsN 1 Palembang. Selasa 10 Maret 2020

Menurut salah seorang advokat ternama yang belum disebutkan namanya, polisi hendaknya segera membawa kasus ini ke pengadilan.

“Preseden buruk bila kasus ini tidak dituntaskan di meja hijau. Ini kasus OTT dugaan pemerasan harus diputus oleh hakim di pengadilan. Kami pun mendorong Kompolnas untuk ikut mengawasi,” ujarnya berapi-api.

“Kami dengar, uang sengaja diberikan karena desakan oknum HM itu yang terus memaksa. Kalau tidak diberi uang, maka tidak ada barang bukti,” ujarnya.

Kepala MTsN 1 Palembang, Drs H Tugino MPd, mengatakan awal pemerasan terjadi bermula dari tersangka menghubungi dirinya beberapa kali sehingga membuat dirinya tidak nyaman.

Bahkan, tersangka mengirim pesan singkat (SMS) dengan nada mengancam akan membawa sebuah kasus ke ranah hukum, bila tidak direspon.

“Awalnya dia menelpon, bahkan sangat sering dia menelpon. Tapi, karena tidak kenal, tidak saya angkat. Lalu, dia SMS mengenalkan diri. Dalam SMS itu, dia mengatakan mau klarifikasi dugaan pungli dan sumbangan non sukarela. Bila tidak direspon akan dinaikkannya ke ranah hukum. Ketika dia menelpon lagi, saya angkat dan saya katakan silakan datang ke Madrasah di MTsN 1 Palembang,” kata Tugino. Saat diwawancara buanaindonesia. Selasa 10 Maret 2020

Dikatakan, Komunikasi pertama kali itu terjadi pada hari Senin, 2 Maret 2020. Pada hari itu, dia mendesak bertemu di restoran, atau Selasa besoknya. Namun, Selasa tidak bisa bertemu karena persiapan simulasi Ujian Nasional (UN). Akhirnya disepakati untuk bertemu di sekolah pada hari Rabu, 4 Maret 2020.

“Saya bilang kalau ada yang mau dikonfirmasi silakan datang ke Madrasah saja pada hari Rabu tanggal 4 Maret,”ujarnya.

Waktu bertemu pertama kali di ruang saya (Kepala MTsN), HM tidak melakukan klarifikasi berita atau konfirmasi sebagaimana yang dia SMS.

Malah dia bilang akan naikkan ke ranah hukum. Kemudian, dia bilang minta uang Rp3 juta. Saya bilang uang itu untuk apa? Kalau saya ada kasus, silakan konfirmasi kasus apa. Tapi, dia cuma bilang ada kasus. “Sudah pak, gini aja saya minta uang Rp3 juta. Saya jawab, saya tidak ada uang,” kata Tugino.

Setelah dibilang tidak ada uang, tapi tersangka tetap tidak mau pergi dari Madrasah. Dia tetap masih menunggu uang Rp3 juta.

“Saya katakan tidak ada uang. Kalau ada perkara yang mau bapak angkat, silakan diangkat,”ujarnya

Saya juga mau konsultasi dengan Komite Madrasah dulu. Tapi, dia tidak mau tahu menahu. Dia mendesak minta uang Rp3 juta. Dia mendesak kalau tidak hari ini, besok. Saya tidak nyaman karena dia mendesak terus, dia tidak mau keluar ruangan saya.

Kakinya diangkat. Suaranya keras. Akhirnya saya bilang ke Bendahara, ada uang tidak. Dipakai dulu uang Rp2 juta, uang itu uang operasional sekolah dan uang Tahfidz Qur’an (uang ngaji anak-anak).

Dia tetap memaksa. Akhirnya saya koordinasi dengan Komite Sekolah. Saya bilang ada oknum LSM yang masih di ruangan saya, memaksa, memeras minta uang Rp3 juta.

“Saya sudah katakan tidak ada uang. Tapi dia tetap memaksa, memeras. Komite nelpon Polda untuk ditindaklanjuti,” ujar Tugino.

Dengan sigap polisi langsung mendatangi lokasi TKP, antara lain yang datang Kompol Baginda Harahap. Kemudian kasus ini diproses oleh Tim Jatanras Polda Sumsel dipimpin Kompol Suryadi dengan nomor perkara : LPB/166/III/2020/SPKT tanggal 4 Maret 2020, dan langsung dilakukan BAP.

“Ketika polisi datang, tersangka masih di dalam ruangan. Uang sudah berpindah tangan dan dimasukkan ke dalam tas HM. Akhirnya, oleh polisi uang itu disuruh keluarkan dari dalam tasnya. Kemudian ditanya, katanya minta uang untuk sumbangan. Tapi, tidak dapat dibuktikan untuk kegiatan apa, bahkan tidak ada proposalnya. Padahal, awalnya SMS tersangka ingin mengungkap suatu kasus, ketika bertemu bukan konfirmasi berita, malah mendesak minta uang Rp3 juta,” tukasnya.

Pemerhati pendidikan, Haji Agus mengatakan, kasus dugaan pemerasan yang dilakukan oknum LSM atas nama HM (35), harus diusut tuntas dan disidangkan di pengadilan.

“Kita dukung polisi untuk membawa kasus ini ke meja hijau hingga putusan pengadilan. Kepada Kanwil Kemenag Sumsel atau Kepala Kantor Kemenag Kota Palembang kita sarankan memberi bantuan hukum kepada Kepala MTsN 1 Palembang dalam menghadapi masalah ini,” ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan, katanya, apalagi kasus dugaan pemerasan ini uangnya bersumber dari uang operasional sekolah, diantaranya uang Tahfidz Qur’an.

“Itu yang membuat kita makin prihatin,” katanya sambil mengusap muka.(*)

 

About Redaksi NHO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Berita Lain

Peringatan HPN 2020, HD Bantu Mobil Operasional untuk PWI Sumsel

Palembang,Newshanter.com – Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru serahkan mobil operasional untuk ...