Home / breaking / Oknum Hakim Wanita Ketua Pengadilan Agama Terkena Razia Di Hotel, Warga Kota Padang Panjang Heboh
Kota Padang Panjang/ Foto Net

Oknum Hakim Wanita Ketua Pengadilan Agama Terkena Razia Di Hotel, Warga Kota Padang Panjang Heboh

Padang Panjang. Newshanter.Com, Dengan terjaringnya hakim wanita Ketua Pengadilan ketua Pengadilan Agama Padang Panjang, Sumatera Barat, Elvia Darwati (49), bersama pasangan Pria Idaman Lain (PIL) di Hotel Dahlia Bukittinggi Minggu (09/10/2016) dini.

Kabar dirazianya ketua Pengadilan Agama di kamar hotel ini dan mejadi berita media online dan surat kabar, kini menjadi menjadi pembicaraan hangat masyarakat Padang Panjang. Apalagi kota yang dikelilingi bukit dan gunung itu dikenal sebagai ‘Kota Serambi Mekah nya Sumatera Barat.

Jika berjalan-jalan di Padang Panjang, tulisan Asmaul Husna menghiasi pinggir jalanan kota. ‘Kota Serambi Mekah’ bahkan menjadi semboyan kota itu. “Padang Panjang itu kota kecil. Kalau ada pejabat agama yang dirazia di kasus seperti ini, itu aib besar,” ungkap seorang warga.

Nursia (21) warga KOta Padang Panjang, mengomentari “Dia (ketua Pengadilan Agama) harusnya mengayomi kita. Tapi malah dia yang berlaku seperti itu. kedua pelaku yang tertangkap itu harus diberi sanksi sosial.” kalau tidak akibatnya nanti adalah azab Allah SWT, dan khawatirnya ini bisa mengenai semua masyarakat padang panjang,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan Syahril Suta Mudo, sehari-harinya pedagang di kota Padang Panjang. Laki laki yang akrap dipanggil Tan Mudo ini berhaarap Ketua Pengadilaan kotsn Tinggi segera di ganti, cepat cepat maninggakan kota Padang Pangjang,” ujarnya.

Sementatra Cendikiawan muslim, Hamid Basyaib menyebut apa yang dilakukan ketua pengadilan itu ‘tidak pantas’.“Kalau dilakukan orang biasa, tindakan itu tidak pantas. Tapi karena dilakukan seorang ketua Pengadilan Agama, maka ketidakpantasannya berlipat ganda,” tutur Hamid.

Meskipun menyebut tindakan yang dilakukan ‘tidak pantas’, cendikiawan Hamid Basyaib, menekankan bahwa masyarakat juga harus melihat situasi ini dari sisi berbeda.

“Kita harus realistis. Apa pun kedudukan, pangkat, status sosial dan ekonomi, pada awal dan akhirnya kita hanyalah manusia. Semua predikat itu tidak penting. Semua predikat itu tidak akan mampu mengubah watak dasar manusia,” tutur Hamid.

Menurut Hamid, yang lebih penting adalah ‘apakah dia dalam bertugas sebagai hakim memutuskan secara adil atau tidak’.Ditanya soal jabatan hakim Pengadilan Agama dan memiliki pilihan kehidupan yang bertolak-belakang, Hamid mengatakan, “Ya itu urusan pribadi dia.”
Seperti dibeitakan sebelumnya Elvia dirazia oleh petugas Satpol PP pada Minggu (09/10/20-) dini hari di sebuah hotel melati di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sekitar 20 kilometer di utara Padang Panjang.Elvia Darwati dikabarkan baru menjabat ketua pengadilan agama Padang Panjang.

Ketika berita razia ini mulai dimuat media online, keesokan harinya, Senin (10/10/2016), Elvia memanggil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Padang Panjang, Syamsoedarman, ke kantornya.

“Suasananya agak beda. Ada penjagaan dua Provost TNI Angkatan Darat,” tutur Syamsoedarman kepada BBC Indonesia, Selasa (11/10/20167).

Dalam pembicaraan dengan Syamsoedarman, meskipun mengakui bahwa yang dirazia di Bukittinggi adalah dirinya, Elvia, mengklaim bahwa laki-laki yang bersamanya adalah keluarga suaminya.

“Kata dia (Elvia), dia ke Bukittinggi sendiri, ada tugas. Lantas malamnya ada keluarga suaminya menginap di Bukittinggi. Dia datangi hotelnya. Dia lalu numpang ke kamar mandi. Hari sudah larut malam. Waktu itulah ada razia,” cerita Syamsoedarman menuturkan ulang perkataan Elvia kepadanya.

Ketua PWI Padang Panjang menyebut Elvia berjanji akan memberikan konferensi pers setelah pertemuan, tetapi ‘diingkari’. “Tidak ada kontak,” pungkas Syamsoedarman.

Suami-istri tanpa surat nikah

kepala Satpol PP Kota Bukittinggi, Syafnir, mengungkapkan Elvia, 49, ditangkap di dalam kamar lewat tengah malam bersama seorang ‘laki-laki yang mengenakan sarung, tanpa baju. Yang perempuan (Elvia) masih berpakaian lengkap’.

Ketika dimintai identitas, keduanya mengaku ‘tidak memiliki KTP’. Mereka mengaku ‘sebagai suami-istri’ namun ketika ditanya surat nikah ‘mereka tidak bisa menunjukkan’.

“Lalu kami lakukan cross-check, bertanya beberapa hal, apakah mereka benar menikah. Ketika ditanya berapa orang jumlah anak, siapa saja nama-nama anak, ternyata jawaban antara laki-laki dan perempuan itu berbeda,” tutur Syafnir.

Elvia pun kemudian mengaku sebagai hakim Pengadilan Agama dan memperlihatkan ‘kartu identitas hakim’ yang dibawanya.

“Karena ini pelanggaran, tentu kita tidak membeda-bedakan. Makanya kita proses sesuai Perda.” Keduanya dikenai sanksi Perda Nomor 3 Tahun 2015 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum dan dibawa ke kantor Satpol
Di kantor inilah kemudian si laki-laki mengaku kalau ‘mereka belum menikah, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, masing-masing dalam proses perceraian’.

Meskipun begitu, menurut Syafnir, Elvia bersikukuh bahwa ‘mereka telah menikah secara agama’.

Usai diproses lebih lima jam, keduanya dibebaskan setelah memilih opsi ‘membayar denda masing-masing Rp1 juta, daripada menyelesaikan kasus ini di pengadilan’. (BBC/NHO)

Kantor Pengadilan Agama Padang Panjang/ Foto NEt

Kantor Pengadilan Agama Padang Panjang/ Foto NEt

KOta Padang Panjang/ Foto Net

KOta Padang Panjang/ Foto Net

Kepala SAtpol PP Bukittinnggi Syafnir/ Foto Net

Kepala SAtpol PP Bukittinnggi Syafnir/ Foto Net

About ZP NHO

Selalu Siap dalam bentuk apapun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Berita Lain

HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-65 Road Safety Policing Tegakan Pergub Dengan Memakai Masker

Palembang,newshanter.com – Tema “Implementasi E-Policing pada fungsi lalu lintas di era digital ...