Home / breaking / Seorang balita punya 12 kelainan dari Payakumbuh, Tak Kunjung Operasi, Orangtuanya Binggung Kemana Mau mengadu

Seorang balita punya 12 kelainan dari Payakumbuh, Tak Kunjung Operasi, Orangtuanya Binggung Kemana Mau mengadu

Jakarta, Newshanter.com. Akhtar Ghazy Arkananta (2) , seorang balita kelahiran Payakumbuh, yang punya 12 kelainan sejak lahir, kini dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo (RSCM) Jakarta tak kunjung dioperasi.Padahal, orangtua balita punya 12 kelainan habis Rp 300 juta sampai jual motor dan tanah miliknya.

Menurut pernyataan orangtua balita seperti dikutip Warta Kota punya, balitanya punya 12 kelainan sejak lahir.Adakah penderitaan yang lebih perih daripada bayi yang tak bisa mengungkapkan kepedihannya?

Mungkin jawabannya hanya ada pada bayi itu sendiri.

Ghazi Akhtar Arkananta lahir di tengah keluarga tak mampu, berayahkan Arga Saputra (24) dan beribu Latifa Armila (23) di Payakumbuh, Sumatera Barat pada 30 November 2017.

Allah Mahatahu mengapa Ia lahirkan Akhtar dengan usus terburai, tak beralat kelamin, tak berdubur serta sembilan kelainan seperti benjolan di tebggorokkan dan kosong pada bagian rongga kepalanya.Tak cukup hingga di situ. Selasa (25/11/2019) untuk ketiga kalinya RSCM menunda operasi yang telah RSCM jadwalkan sendiri 27 – 28 November 2019.

Alasannya, BPJS belum menyediakan alat untuk keperluan RSCM melakukan operasi.

Awal November keluarga yang kini menumpang tinggal di rumah kerabat di kawasan Cilodong, Depok Jawa Barat, bersurat kepada Presiden dengan tembusan kepada Menkes.

Keesokan harinya (6/11/2019) RSCM tiba-tiba menelepon agar segera datang untuk melakukan beberapa tahap rawat jalan dalam rangka operasi yang sudah dijadwalkan tanggal 27 – 28 November 2019.Sayangnya, hingga pada tanggal yang dijanjikan, Akhtar tak juga menjalani operasi dengan alasan yang sama sejak satu setengah tahun lalu.

“Kami sudah habis-habisan, kalau ditotal bisa sampai Rp 309 jutaan, jual motor, jual tanah tapi Akhtar masih juga tak dioperasi,” kata Latifa kepada Warta Kota di rumah saudaranya di bilangan Cilodong, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/11/2019).

Uluran para dermawan menjadi penopang hidup Akhtar hingga kini.

Kewaspadaan menjadi alasan sang ayah memutuskan untuk tak lagi bekerja.
Latifa dan Arga harus bertukar jaga untuk merawat Akhtat, sebab, bila lengah sedikit saja, maka nyawa Akhtar taruhannya.

“Alhamdulilah ada saja yang donasi, berbagai instansi termasuk Baznas dan badan zakat lainnya turut bantu pengobatan,” papar Latifa.

Untuk satu bulan saja, biaya kehidupan Akhtar yang harus dikeluarkan kedua orang tuanya mencapai Rp 6 juta.

Biaya itu termasuk beli salep, cairan khusus untuk menghindari ususnya infeksi, kain kasa, susu khusus dengan harga Rp 200.000 seberat 400 gram yang habis dalam waktu dua hari.

Termasuk biaya kontrol dokter menjadi hal yang tak boleh dilewatkan keluarga muda ini.Untuk biaya operasi saja, Akhtar membutuhkan biaya Rp 48 juta, biaya tersebut belum termasuk alat dan obat-obatan.

Latifa dan Arga pun harus putar otak untuk mencari biaya tambahan bagi pengobatan anaknya.

Sebab, bila operasi dilakukan, BPJS Kesehatan mengaku kepada keduanya bahwa anggaran untuk pengobatan Akhtar melebihi batas yang dijatahi BPJS Kesehatan. Jika pun harus tetap operasi, kelebihan biaya tersebut akan dibebankan oleh rumah sakit dalam hal ini RSCM.

“Tapi harus nunggu keputusan dari pihak RSCM dan juga harus disetujui Direktur RSCM, sampai saat ini kami belum dapat jawaban,” kata Latifa.

Kuasa Tuhan lah yang membuat balita yang merespon omongan orang lain dengan baik ini masih hidup hingga hari ini.Bahkan, ketika Latifa mengajak Akhtar memraktekan solat, bayi lucu ini langsung meletakkan kedua tangannya di dada.

Lalu, sampai kapan kah Akhtar harus menanggung rasa sakitnya?

“Kami akan terus berupaya semaksimal mungkin, kemanapun dan apapun akan kami jalani demi kesembuhan Akhtar,” tutur Latifa lirih.

Usus keluar dan menggantung di perut

Saat ini, kondisi balita punya 12 kelainan sejak lahir tersebut nampak miris, sebab tampak usus keluar dari perut balita punya 12 kelainan itu.Terlihat, usus 12 jarinya terburai keluar dan menggantung di perut hingga kebagian selangkangannya.
“Sejak lahir memang sudah seperti ini kondisinya,” kata Latifa Armila (23) kepada Warta Kota, Cilodong, Depok, Rabu (27/11/2019).

Berbagai macam rumah sakit sudah didatangi, awalnya, ibu muda asal Payakumbuh ini melahirkan di sebuah RSUD di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Namun saat usia Akhtar menginjak lima bulan, dirinya dan sang suami, Arga Saputra (24) terbang ke Jakarta sesuai sebuah rumah sakit di Padang merujuk Akhtar ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Sesampainya di RSCM, Akhtar menjalani berbagai pemeriksaan hingga akhirnya diputuskan untuk operasi.
Sayangnya, sejak 2018 hingga kini, Akhtar hanya dijanjikan saja untuk di operasi.”Tiga kali di jadwalkan operasi tapi tertunda terus, katanya alatnya belum ada di RSCM,” papar Latifa.

Tepat di tanggal 27 November inilah Akhtar harusnya menjalani operasi namun lagi-lagi RSCM menginformasikan penundaan dengan alasan yang sama.

Padahal, kata Latifa, dokter di dua departemen yakni Bedah Urologi dan Bedah Anak mengaku sudah siap jika harus menjalani operasi.”Yang belum siap itu bagian Ortopedinya, karena ngakunya sih enggak ada alat, enggak tahu kapan alatnya ada,” tutur Latifa.

Tak hanya itu, Akhtar juga harus terus menjalani hari-harinya tanpa bisa tidur miring ataupun tengkurap lantaran biaya operasinya melebihi pagu alias anggaran yang diberikan BPJS Kesehatan.

“Kalau operasinya saja itu Rp 48 juta, belum alatnya, katanya yang mahalnya itu alatnya,” tutur Latifa.

Selama satu tahun setengah ini, Latifa dan suami pun mencari-cari tahu lebih rinci terkait alat apa yang dimaksud dan bagaimana cara mendapatkan alat itu.Namun, keluarga muda ini tak pernah mendapatkan jawaban pasti mengenai alat tersebut, bahkan untuk berapa biaya dari alat itu pun tak terucap dari pihak RSCM.

Latifa mengatakan, pihaknya menanyakan mengenai berapa harga alat serta total keseluruhan bila operasi dilakukan tak lain karena ingin sang anak segera tertangani penyakitnya.

“Kalau pun nantinya memang masalah biaya, ya kami akan usahakan bagaimanapun caranya, tapi sampai hari ini kami enggak pernah dikasih tahu,” papar Latifa.

Hingga kini, Akhtar menjalani kehidupannya dengan tak hentinya meringis karena ususnya itu hanya dibungkus kain kasa yang sebelumnya disirami sebuah cairan khusus agar tak infeksi.Dalam satu bulan, Latifa dan Arga harus mengeluarkan biaya Rp 6 juta untuk keperluan Akhtar sehari-hari.

Sementara, kedua orang tua Akhtar tak bekerja karena harus terus memantau buah hatinya selama 24 jam.Kalau tidak, lengah sedikit saja, nyawa Akhtar taruhannya. Tak jarang sekujur tubuh Akhtar membiru karena tak bernapas.

Sebab, selain ususnya terburai, Akhtar juga di diagnosa mengalami kelainan di bagian kerongkongan, tulang kaki, langit-langit mult, dan lainnya.

“Cairan ludahnya dia itu ngumpul di kerongkongan, jadi kalau dia sudah mulai sesak napas, harus di sedot,” papar Latifa.

Untuk napasnya pun harus melalui mulut, selama berbincang dengan Warta Kota pun terdengar suara napas berat yang keluar dari mulut Akhtar.

Bahkan semenjak lahir hingga usia satu bulan, Akhtar harus keluar masuk UGD setiap hari untuk mengeluarkan cairan di kerongkongannya.”Kalau tidak semua badannya biru, bahkan pernah enggak napas, pernah kami sampai goyang-goyangin tubuhnya baru akhirnya dia sadar lagi dan napas,” tutur Latifa.

Suhu tubuhnya pun melebihi anak normal lainnya, yakni berada di angka 38.Akhtar pun tak boleh terkena sinar matahari langsung atau kegerahan.Sebab, itu akan membuat bocah laki-laki ini menangis dan meronta.”Kalau ke teras rumah aja cuma bisa 15 menit paling lama, itu pun wajahnya udah merah banget,” kata Latifa.(WK/01)

About ZP NHO

Selalu Siap dalam bentuk apapun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pos-pos Terbaru




loading...

adnow

Komentar Terbaru

    x

    Berita Lain

    Empat Warga Sumsel Tewas Diterkam Harimau, Terakhir Mustadi warga Desa Pajar Bulan Mara Enim

    Muara Enim . Newshanter.com, Selama November dan Desember 2019 ini, setidaknya empat ...