Home / Ekonomi Bisnis / Masyarakat Banjaranah Minta Pabrik Gambir PT.SRI Dioperasikan Kembali
Pabrik Gambir OT Sri/ Foto Net

Masyarakat Banjaranah Minta Pabrik Gambir PT.SRI Dioperasikan Kembali

Limapuluh Kota, Newshanter.com— Sekitar 300 orang warga Jorong Banjaranah, Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Limapuluh Kota meminta kepada Bupati Limapuluh Kota untuk mengoperasikan kembali pabrik pengolahan gambir milik PT.Sumatera Resources Internasional (PT.SRI)

Permintaan agar pabrik pengolahan gambir milik Pemodal Asing (PMA) asal India itu dioperasikan kembali, dilakukan warga setempat dengan cara menggalang dukungan melalui surat yang dilayangkan kepada Bupati Limapuluh Kota.

Dimotori tokoh masyarakat Jorong Banjaranah, Bahtiar J didampingi Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Nagari Pangkalan, Agus, Hendri, Ine dan Ita, utusan masyarakat Jorong Banjaranah itu datang ke Kantor Bupati Limapuluh Kota di Bukit Limau Sarilamak, Harau, Selasa (20/8/2019).

Mereka  menyampaikan surat dukungan masyarakat dan minta kepada Pemkab Limapuluh Kota untuk mengaktifkan kembali pabrik gambir PT.SRI. Utusan warga Jorong Banjaranah itu diterima Asisten Perekonomian, Fitma Indra Yani.

Sedangkan surat yang tembusannya disampaikan kepada Kapolres Limapuluh Kota, Ketua DPRD Limapuluh Kota, Kepala Kejaksaan Negeri Pangkalan Kotobaru, Kapolsek Pangkalan Kotobaru, Koramil 02 Pangkalan, Camat Pangkalan, Walinagari Pangkalan dan pihak PT.SRI.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa, usaha pelarangan agar warga atau suplayer tidak menjual atau memasok daun gambir kepada PT.SRI, hanya dilakukan oleh sekelompok warga yang mengatasnamakan masyarakat Banjaranah dan dimotori mamak kaum bukan Ninik Mamak yang berupaya mempengaruhi masyarakat.

Menurut Bahtiar J, larangan untuk tidak memasok daun gambir ke PT.SRI tersebut bahkan diwarnai ancaman sosial kepada warga yang berbunyi; bagi warga yang tidak mendukung seruan demo dan penghentian pasokan daun gambir kepada PT.SRI, kalau ada keluarganya yang meninggal warga tidak akan datang ke rumah duka dan tidak akan membantu penggalian kubur termasuk mengancam tidak akan datang ke rumah mereka jika ada yang melaksanakan hajatan.

Menurut Bachtiar J, seruan larangan agar tidak memasok daun gambir kepada PT.SRI tersebut dimotori oleh sekelompok orang dan didukung oleh mamak kaum dan bukan Ninik Mamak yang ada di Bajaranah.

Dampak tidak beroperasi PT.SRI, kini sebanyak 70 orang tenaga kerja lokal kehilangan pekerjaan. Tak hanya itu, ekonomi masyarakat merosot. Akibatnya, tindak kejahatan di Jorong Banjaranah meningkat dan merajalela. Bahkan setiap malam rumah warga digerayangi pencuri dan terbukti sudah ada uang warga dan HP yang hilang. Kemudian kolam ikan juga dicuri, hasil pertanian seperti jengkol dan petai juga menjadi sasaran pencurian.

Bukan itu saja, baru-baru ini di Jorong Banjaranah telah terjadi aksi kejahatan pemerasan dan perampokan sepeda motor. Pelaku kejahatan begal itu memakai sebo dan menghunuskan senjata tajam ke leher korban, kemudian memaksa korban bernama Ilul untuk menyerahkan uang sebanyak Rp22 juta yang tersimpan di dalam jok hondanya.

Intinya, sejak pabrik gambir PT.SRI tidak lagi beroperasi di Banjaranah, banyak tindak kejahatan terjadi di daerah ini. Padahal, kondisi di daerah ini sebelumnya aman-aman saja.

Dalam surat tersebut, juga diungkapkan bahwa uang sebanyak Rp.216 juta yang telah diberikan oleh PT.SRI untuk Jorong Banjaranah, agar diaudit oleh pihak penegak hukum.

Warga Banjaranah berharap, kalau PT.SRI beroperasi kembali mereka berharap agar bantuan yang diberikan untuk Jorong Banjaranah sebanyak Rp 12 juta diaktifkan kembali.

Kemudian rekruitmen tenaga kerja baru utamakan warga Banjaranah sesuai dengan pendidikan dan ijazahnya. Disamping itu warga setempat menuntut agar suplayer daun gambir diberikan kepada warga Banjaranah, termasuk Humas PT.SRI juga ditunjuk orang Banjaranah.

Disamping itu warga meminta agar kebutuhan sarana air bersih dibantu oleh PT.SRI, jalan trans diaspal dan anak yatim, orang miskin, anak sekolah kurang mampu dan panti jompo diberikan bantuan.

Sementara itu Kepala Jorong Banjaranah, Rio Hendra yang diminta komentarnya terkait adanya desakan warga setempat agar PT.SRI diaktifkan kembali menyatakan bahwa pihak masyarakat Banjaranah tidak pernah menutup operasional PT.SRI.

Namun warga Nagari Pangkalan menuntut agar pihak PT.SRI membeli daun gambir dengan harga yang wajar sesuai dengan pasaran global. Artinya, membeli daun gambir bukan sesuka hati pihak PT.SRI dengan harga murah.

Tuntutan warga lainnya adalah soal limbah pabrik jangan dibuang ke sungai, kemudian tenaga kerja utamakan warga lokal sehingga keberadaan PT.SRI di Jorong Banjaranah benar-benar mendatangkan manfaat bagi masyarakat karena telah berperan meningkatkan ekonomi buat masyarakat dan daerah paparnya kepada Newshanter.com.

Tutup Sejak Bulan Juli

Menurut data Newshanter pabrik gambir tersebut, resmi tidak beroperasi sejak Kamis (25/7/2019) , dengan alasan perusahaan merugi akibat pengangkutan daun gambir yang dibeli ke petani gambir Kapur IX dan Pangkalan diduga dihalangi sejumlah oknum masyarakat. Akhirnya, sumua jajaran manajemen PT SRI termasuk direkturnya dari India, sudah meninggalkan pabrik untuk pulang kampung.

PT SRI, pengelola pabrik gambir yang mempekerjakan 425 masyarakat lokal termasuk para pengelolaan pembelian daun gambir serta pengangkutan dengan rincian, 135 orang karyawan tetap bergaji rata rata Rp2,5 juta per bulan, 13 manajemen dari India dan selebihnya pengumpul dan pengangkut daun gambir ke pabrik.(mus)

 

About ZP NHO

Pos-pos Terbaru




loading...

adnow

Komentar Terbaru

    x

    Berita Lain

    OKI Diproyeksi Jadi Kawasan Ekonomi Baru

      Kayuagung OKI, Newshanter.com – Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Trans-Sumatera ...

    0 pengunjung sedang aktif sekarang
    0 tamu, 0 anggota
    Semua waktu: 343 pada 10-23-2015 02:12 am UTC
    Maks pengunjung hari ini: 0 pada 12:00 am UTC
    Bulan ini: 0 pada 09-01-2019 12:00 am UTC
    Tahun ini: 0 pada 01-01-2019 12:00 am UTC