Home / breaking / LPP RRI Bukittinggi Peringati Hari Jadi ke 73 dan Tahun ke 6 Sebagai Radio Bela Negara,

LPP RRI Bukittinggi Peringati Hari Jadi ke 73 dan Tahun ke 6 Sebagai Radio Bela Negara,

Bukittinggi, News Hanter.com- Keluarga besar LPP RRI Bukittinggi melakukan upacara untuk memperingati hari jadinya yang ke 73 dan 6 tahun sebagai Radio Bela Negara, yang jatuh pada 14 Januari 2019 ini,

Setelah upacara bendera, dilanjutkan dengan acara pengajian dan syukuran, serta dialog yang membicarakan sejarah berdirinya RRI Bukittinggi yang dikukuhkan pada 7 Desember tahun 2013 lalu, melalui keputusan Direktur Utama LPP RRI.

Berdasarkan fakta sejarah dan peranannya dalam memperjuangkan kedaulatan, dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka pada tahun 2013 itu secara resmi RRI Bukittinggi menjadi Radio Bela Negara, yang prasastinya ditandatangani oleh Direktur Utama LPP RRI pada masa itu Rosarita Niken Widiastuti, Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis, serta Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo.

Peringatan hari jadi RRI Bukittinggi ke 73 yang jatuh pada 14 Januari 2019 ini, setelah upacara bendera, dilanjutkan dengan acara pengajian dan syukuran, serta dialog tentang sejarah berdirinya RRI Bukittinggi yang dipandu presenter Ahmat Ikhsan, dengan narasumber mantan Bupati Lima Puluh Kota Alis Marajo via telpon karena sedang berada diluar daerah, berikut yang hadir di studio Programa 1, Asisten Dua Setdako Bukittinggi Ismail Djohar, serta Sutan Palindih dari Simpang Tarok Bukittinggi.

Kepala Stasiun LPP RRI Bukittinggi Lina Rossini mengatakan, khusus LPP RRI Bukittinggi peringatan hari jadinya jatuh setiap tanggal 14 Januari, sebab LPP RRI Bukittinggi didirikan pada tanggal 14 Januari 1946 lalu dan pada saat ini genap berusia 73 tahun

“Momen itu sangat bersejarah dan sarat akan makna, karena 73 tahun silam adalah awal berkumandangnya siaran Radio Republik Indonesia Bukittinggi, dan perannya sangat vital, karena ikut menginformasikan keberadaan Republik Indonesia yang masih ada pasca kemerdekaan ke seluruh pelosok hingga siarannya di dengar ke mancanegara,” jelasnya.

Lina Rossini, juga mengatakan, makna hari jadi ke 73, merupakan hal yang sangat luar biasa, karena dari 90 stasiun RRI sekarang, tidak banyak stasiun yang ikut berperan pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan RRI Bukittinggi menjadi salah satu stasiun diantaranya.

“Sejarah RRI Bukittinggi ini tertulis dalam satu catatan yang dikarang oleh Sutan Sunaro yang pernah menjadi Kepala Stasiun di beberapa stasiun RRI, dan itu merupakan catatan dari rangkaian perjuangan dimana seluruh rakyat Indonesia bergerak, dan melalui corong RRI lah kemerdekaan Indonesia itu dikumandangkan,” ulasnya.

Menurut Lina Rossini, memaknai hari jadi RRI Bukittinggi itu disamping dengan cara mensyukuri, juga melanjutkan perjuangan dari tokoh RRI di masa lalu, dan kita hendaknya lebih baik lagi kedepannya dengan memaksimalkan tugas pokok masing-masing.

“Suasana penuh kesederhanaan pada peringatan HUT kali ini, menjadi refleksi terhadap apa yang telah diberikan kepada lembaga. Merenungi kembali apa-apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir, serta mencoba mengambil pelajaran dari masa lalu itu untuk pembelajaran, yang dapat dijadikan pemacu semangat untuk menapak di masa mendatang,” sebutnya.

Meski demikian sambung Lina Rossini, momen ulang tahun adalah saat yang tepat bagi seluruh Angkasawan-angkasawati untuk sekejap berpaling mengenang apa yang telah dilalui, merenungkan posisi hari ini, dan yang paling penting bagaimana menatap masa depan dengan tekad meningkatkan kinerja lembaga.

Sementara itu salah seorang narasumber dialog dalam rangka hari jadi RRI Bukittinggi yang merupakan Asisten Dua Setdako Bukittinggi Ismail Djohar mengatakan, berdasarkan catatan sejarah, dari Kabupaten 50 Kota, RRI Bukittinggi kemudian berkantor di Parik Natuang Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, kemudian pindah ke daerah Tarok atau sekarang tepatnya disamping SMP Negeri Dua Bukittinggi di Kecamatan Guguak Panjang.

“Barulah pada 14 Januari tahun 1947, RRI Bukittinggi pindah ke bangunan kantor di jalan DR. A.Rivai Nomor 22 A dan mengudara secara resmi, yang dahulunya merupakan sebuah Hotel milik Pemerintah Hindia Belanda yang bernama Wilhelmina,” ulasnya.

Menurut Ismail Djohar, perjuangan panjang berdirinya RRI Bukittinggi ini tidak terlepas dari seluruh pelaku sejarah, maka dari itu sudah sepatutnya kita mengucapkan terima kasih atas segala bentuk perjuangan mereka di masa lampau, terutama saat mengumandangkan Kemerdekaan Republik Indonesia bersama RRI Surakarta dan RRI Jakarta, sehingga seluruh dunia mengetahui bahwa di kala itu Negara Indonesia ini masih ada dan diakui keberadaannya.

“Sebagai Radio Bela Negara yang telah berusia 73 tahun, RRI Bukittinggi memasuki usia yang matang, sehingga perlu dilakukan introspeksi, sejauhmana berbuat dalam membangun kemerdekaan Republik Indonesia yang disejalankan dengan tugas pokok, dan sebagai media hendaknya terus menyampaikankan informasi penting bagi pendengar,” ungkapnya.

Pemrakarsa RRI Bukittinggi sebagai Radio Bela Negara yang juga Mantan Bupati 50 Kota Alis Marajo dalam keterangannya melalui telpon seluler mengatakan, masyarakat terutama di Kabupaten 50 Kota saat Radio PDRI tanggal 17 Januari 1949 berhasil menghubungi radio PTT India, terbukanya hubungan ini segera dilaporkan YBJ6 kepada PDRI dan Gubernur Militer Sumatera Barat.

“Suara kemerdekaan dan kenyataan Indonesia masih ada sampai ke seluruh penjuru dunia melalui telegram pada Konferensi Negara Asia di India melalui pemancar “ZAY” meneruskan pada pemancar “ZZ” di Nagari Koto Tinggi, dan dari “ZZ” siaran diteruskan ke YBJ6 untuk ditelegramkan ke India” jelasnya.

Bertitik tolak dari sejarah itu sudah tambah Alis Marajo, sepatutnya RRI Bukittinggi atau dahulunya Radio PDRI diberikan penghargaan sebagai Radio yang turut berjuang menjaga keutuhan NKRI. Radio yang mengumandangkan kepada dunia bahwa NKRI masih tetap berdiri teguh meski para pemimpinnya ditahan

Indonesia berada pada masa-masa sulit dan menegangkan, Ibukota republik indonesia jatuh, pemimpin Republik Indonesia, Presiden, Wakil Presiden dan sejumlah menterinya menyerah dan ditahan belanda.

“RRI berperan mengumumkan Indonesia masih eksis ke dunia internasional, dengan menjalin komunikasi dengan para pemimpin di seluruh wilayah, termasuk melakukan perang gerilya, RRI Bukittinggi Berperan penting selama perjuangan PDRI, sehingga kemerdekaan Indonesia dapat diselamatkan, “ulasnya.

Peran RRI Bukittinggi, 19 Desember 1948, dari Yogyakarta ke Bukittinggi (Ibukota Pemerintah Darurat RI), pada saat itu Bung Karno – Bung Hatta dibuang ke Brastagi.

“Hubungan Bukittinggi –Yogyakarta berjalan dengan pengorbanan dan keberanian pejuang melalui darat-laut-udara. RRI Bukittinggi berperan yang semula bernama Komando Penerangan Sumatera selanjutnya bernama RRI Sumatera, “jelasnya

Pada 1 September 1948 sambung Alis Marajo, pemerintah darurat RI dialihkan ke Sumatera berpusat di Bukittinggi, ketika yogyakarta diduduki Belanda. RRI menjadi incaran untuk di bom oleh Belanda dan Bukittinggi akan dibumi hanguskan. (A/M)

About ZP NHO

x

Berita Lain

Hadiri Pelantikan PC PGRI Pangkalan Kuras, Ini yang Dikatakan Bupati H.M Harris

  Pelalawan, newshanter.com – Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi hendaknya juga ...

0 pengunjung sedang aktif sekarang
0 tamu, 0 anggota
Semua waktu: 343 pada 10-23-2015 02:12 am UTC
Maks pengunjung hari ini: 0 pada 12:00 am UTC
Bulan ini: 0 pada 03-01-2019 12:00 am UTC
Tahun ini: 0 pada 01-01-2019 12:00 am UTC