Home / HuKrim / Teror Menjelang Subuh di Lumajang Untuk Wartawan
ilustrasi ancaman wartaw/ detik.com

Teror Menjelang Subuh di Lumajang Untuk Wartawan

Jakarta -Newshanter.com- Bagi Wawan Sugiarto, wartawan stasiun televisi TV One, pertemuan dengan Holil pada dini hari itu bukan sebuah kebetulan. Ia menduga dibuntuti Holil sejak pulang meliput acara 40 hari meninggalnya Salim alias Kancil di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Dalam perjalanan pulang ke Lumajang pada Jumat, 6 November 2015, pukul 02.00 WIB, itu, mobilnya terpaksa berhenti di Jalan Raya Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh. Saat itu, ada penangkapan tiga begal sepeda motor yang menggegerkan warga.

Di antara kerumunan orang di tempat kejadian perkara, tiba-tiba terlihat sosok Holil. Wawan—biasa disapa Iwan—segera mengarahkan kameranya sehingga membuat warga Kaliwungu, Tempeh, itu gugup. Wajah Holil memerah. Ia berusaha menghindar. “Saya ingin tahu bagaimana reaksinya,” kata Iwan kepada detikcom.

Reaksi Holil tersebut makin menguatkan dugaan Iwan bahwa pria itulah yang mengirim pesan pendek (SMS) ancaman pembunuhan terhadap dirinya. SMS serupa juga dikirimkan Holil kepada Abdul Rohman (Kompas TV) dan Arifulin (Jak TV).

Teror masih menyelimuti pesisir selatan Lumajang setelah tewasnya Kancil. Suasana juga belum sepenuhnya kondusif. Rumah rekan seperjuangan Kancil di Selok Awar-Awar, Abdul Hamid, dilempari dengan batu oleh kerabat tersangka pembunuhan Kancil. “Setiap hari sekarang masih dijaga Brimob. Siang-malam, bergantian,” ujar Hamid kepada detikcom.

Kini giliran wartawan yang menjadi sasaran. Dalam SMS yang diterima Iwan dan kawan-kawan pada 5 November pukul 04.00 WIB itu, Holil meminta mereka tak lagi memberitakan penambangan pasir di Lumajang. Kalau wartawan masih nekat, Holil tak akan ragu untuk membunuh mereka dengan bom ikan atau bondet.

Holil juga marah karena pemberitaan sudah menyeret nama Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Lumajang Agus Wicaksono. Ia juga menyebut-nyebut nama perusahaan PT Mutiara Halim. Lalu, di akhir SMS-nya, Holil mencantumkan nama “Tim 32”.

Di Lumajang, Tim 32 dikenal sebagai kelompok preman tak terorganisasi yang cukup ditakuti. Tim 32, yang identik dengan aneka tindak kriminal itu menjadi beking perusahaan terkait tambang pasir besi, termasuk Mutiara Halim.

Adapun Mutiara Halim adalah perusahaan yang sejak satu dasawarsa lalu menguasai pemungutan pajak penimbangan pasir dari seluruh Lumajang. Perusahaan milik Setiadi Laksono Halim itu juga mengelola tempat penimbangan pasir di Tempeh.

Salah satu bekas pentolan Tim 32, Adli Ridho, mengatakan Holil adalah anggota Tim 32 yang menjaga portal timbangan Mutiara Halim di Desa Tempeh. “Saya kenal dia. Holil masuk Tim 32. Dia adalah mantan preman,” ujar Adli kepada detikcom.

Di Tempeh, saat ini penambangan pasir ilegal memang masih berjalan. Padahal, sejak tragedi Kancil, Pemerintah Kabupaten Lumajang menyetop penambangan pasir di Lumajang. Tempat penimbangan Mutiara Halim pun masih dioperasikan.

“Iya, masih berjalan pengerukan dan penimbangan,” ujar seorang resepsionis PT Mutiara Halim, yang segera menutup panggilan telepon ketika tahu yang menghubungi adalah detikcom.

Holil sebetulnya bukan orang asing di kalangan wartawan Lumajang. Ia pernah kerja di media yang kurang terkenal di Lumajang. Holil kemudian menjadi pengawas penambangan pasir di Tempeh. Namun Iwan enggan membeberkan apakah ia bekerja untuk Mutiara Halim atau bukan.

Iwan memberitakan penambangan pasir ilegal itu pada Rabu, 4 November, tepatnya di Sungai Mujur, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh. Setelah berita itu terbit, aparat gabungan dari Polsek Tempeh dan Polres Lumajang melakukan sweeping penambangan pasir di sepanjang Sungai Mujur. Polisi mengamankan tiga unit mobil pikap milik penambang liar.

Lantas, sehari kemudian, datanglah SMS dari Holil. Sebelumnya, ketika penambangan pasir di Lumajang menjadi sorotan setelah tewasnya Kancil, Holil juga berulang kali menelepon Iwan dkk. Ia selalu mencari-cari keberadaan para wartawan tersebut. “Pertanyaannya sama: di mana. Hingga akhirnya saya tahu kalau dia (Holil) yang telepon,” ujar Iwan.

Karena khawatir keselamatan mereka makin terancam, akhirnya ketiga jurnalis itu melaporkan perbuatan Holil ke Polda Jawa Timur. Senin, 8 November 2015, polisi menangkap Holil di Jalan Kalimas, Kelurahan Rogotrunan, Lumajang. Barang bukti berupa 1 unit telepon seluler Samsung dan 1 unit BlackBerry serta 2 buah kartu SIM juga diangkut. Tak kurang dari 24 jam, polisi menemukan bukti yang cukup untuk menetapkan Holil sebagai tersangka.
Ketua DPRD Lumajang Agus Wicaksono (M. Aminudin/detikcom)
Polisi memastikan motif teror itu terkait dengan pemberitaan yang dilakukan Iwan dkk. Kini Polda Jawa Timur tengah mendalami apakah ada kaitan antara perbuatan Holil dan nama-nama yang disebut dalam SMS- nya. “Ditanya dia hanya diam saja,” kata Komisaris Besar Raden Argo, Kepala Biro Humas Polda Jawa Timur.

Sementara itu, Agus Wicaksono membantah bila dikatakan berada di balik aksi Holil tersebut. Ia mengakui memang dibesarkan dalam kultur Tim 32. Namun ia tidak terkait sama sekali dengan teror yang merebak kembali di Lumajang. “Saya juga akan melapor ke polisi dengan alasan pencemaran nama baik,” ujar Agus kepada detikcom.(Sumber :Detik.com*)

About ZP NHO

Selalu Siap dalam bentuk apapun
x

Berita Lain

Larikan Mobil Rental, Pelaku Ditangkap di Wilayah Sumedang dan Dibawa ke Polsek Kampar Kiri Hilir

KAMPAR KIRI HILIR,newshanter.com – Hasil kerjasama Unit Reskrim Polsek Kampar Kiri Hilir ...

0 pengunjung sedang aktif sekarang
0 tamu, 0 anggota
Semua waktu: 343 pada 10-23-2015 02:12 am UTC
Maks pengunjung hari ini: 0 pada 12:00 am UTC
Bulan ini: 0 pada 02-01-2020 12:00 am UTC
Tahun ini: 0 pada 01-31-2020 11:20 am UTC